Sambut Hari Jadi Kota Solo, Ketoprak Balekambang Pentaskan 'Babad Solo Adeging Kraton Solo'
Dalam pentas bertajuk Babad Solo Adeging Kraton Solo tersebut turut tampil artis layar lebar tahun 70an asal Solo, Pong Harjatmo.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Berdirinya Kota Solo tak lepas dari adanya Keraton Kasunanan Surakarta.
Bermula dari Kerajaan Mataram yang berkedudukan di Kartasura diserang oleh pemberontak sehingga menyebabkan Keraton menjadi rusak.
Bangunan Keraton Kartasura menjadi hancur dan dianggap "tercemar".
Susuhunan Pakubuwana II kemudian memerintahkan abdi dalemnya untuk mencari lokasi pembangunan keraton baru.
Singkat cerita terpilihlah Desa Sala.
Akan tetapi ganti rugi dan mata pencaharian orang-orang di Desa Sala menjadi salah satu masalah yang harus dihadapi Susuhunan Pakubuwana II.
Ki Gede Sala sebagai lurah Desa Sala kemudian mengajukan tiga permintaan.
“Gelondhongan kayu diganti dengan Gong Kyai Sekar Delima, Ron Lumbu atau Daun Talas dan kepala Tledhek atau penari,” ucap Ki Gede Sala.
Susuhunan Pakubuwana II akhirnya mengartikan permintaan warga Desa Sala dengan Tledhek berarti sepuluh ribu ringgit.
Gong Sekar Delima berarti “gangsa” , bibir atau perkataan, jadi bersifat perumpamaan.
Gong Sekar Delima menjadi buah bibir yang menggambarkan asal mula/cikal bakal (desa) yaitu Kyai Gede Sala.
Atas pertimbangan itu sepantasnya menerima ganti uang sebanyak sepuluh ribu ringgit.
Sebagai ganti rugi penghasilan desa beserta rawa-rawanya.
Demikian akhirnya Kyai Gede Sala memperoleh ganti rugi sebesar sepuluh ribu ringgit dari Sunan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/babad-solo-adeging-kraton-solo_20170212_222443.jpg)