Fakultas MIPA UNS Surakarta Gelar Seminar Nasional yang Membahas Obat Herbal

Siti dalam materinya, ia mengatakan pentingnya pengawasan dari pemerintah akan peredaran obat tradisonal.

Fakultas MIPA UNS Surakarta Gelar Seminar Nasional yang Membahas Obat Herbal
TribunSolo.com/Imam Saputro
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Siti Wahyuningsih, M. Kes.​ saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pengembangan dan Kewaspadaan Obat Herbal di UNS Surakarta, Selasa (7/3/2017).​ 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret (FMIPA UNS) Surakarta menyelengarakan seminar nasional membahas perkembangan obat herbal, Selasa (7/3/2017).

Seminar Nasional yang mengambil tema Pengembangan dan Kewaspadaan Obat Herbal ini bertempat di Aula Gedung C FMIPA UNS.

Adapun seminar ini menghadirkan pembicara dari pihak pemerintah, industri, dan juga akademisi.

Dari pemerintah hadir Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dr. Siti Wahyuningsih, M. Kes.

Kemudian dari pihak industri hadir Prof. Dr. Bernard T. Widjaja, M.M. dari PT Martina Berto, Tbk (Martha Tilaar Group) dan Drs. Nyoto Wardoyo, Apt. (Dirut PT Deltomed Laboratories).

Siti dalam materinya, ia mengatakan pentingnya pengawasan dari pemerintah akan peredaran obat tradisonal.

Menurutnya, obat herbal atau jamu tradisonal yang selama ini dikenal oleh masyarakat aman untuk dikonsumsi masih harus memenuhi standar kesehatan.

“Karena pada kenyataanya banyak obat herbal yang beredar di masyarakat mengandung bahan kimia obat, bahkan banyak obat herbal yang tidak punya izin edar,” kata Siti.

“Peran masyarakat sangat diperlukan terkait dengan peredaran obat herbal, agar konsumen terlindungi dari kesalahan dalam meminum jamu tradisonal yang efeknya bisa berbahaya karena mengandung bahan kimia obat,” tambahnya.

Pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan kota Surakarta sering memberikan bimbingan dan pelatihan kepada produsen obat tradisional terutama jamu gendong.

Kemudian baik Bernard maupun Nyoto sepakat untuk membuat inovasi produk jamu.

Dari produk jamu yang pahit rasanya menjadi produk jamu yang manis dan disukai oleh masyarakat tanpa menghilangkan khasiatnya.

Mereka berdua sadar bahwa obat herbal atau jamu tradisional menjadi unggulan inovasi, karena alam Indonesia yang sangat subur sehingga sangat mendukung pengembangan obat tradisonal.(*)

Penulis: Imam Saputro
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved