Budaya Malu Ubah Kampung Preman di Jetis, Yogyakarta, Jadi Kampung Wisata Edukatif

Menurutnya, stigma sebagai "Kampung Preman" yang melekat sejak lama bisa berubah dengan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan membangun budaya malu.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Imam Saputro
Dosen Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta, Dr. Yuli Setyowati saat mempertahankan disertasi berjudul "Model Pemberdayaan Masyarakat Kampung Preman dalam Masyarakat Komunikatif Guyub Rukun", Kamis (31/8/2017). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Gerakan membangun budaya malu merubah stigma kampung preman di Kampung Badran, Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta menjadi kampung wisata edukatif.

Hal tersebut yang diteliti oleh Dosen Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta, Dr. Yuli Setyowati dalam desertasinya.

Menurutnya, stigma sebagai "Kampung Preman" yang melekat sejak lama bisa berubah dengan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan "membangun budaya malu".

“Sekitar 15 tahun terakhir Kampung Badran mengalami perubahan signifikan berupa berkembangnya potensi masyarakat yang mengubah "Kampung Preman" menjadi kampung wisata edukatif,” katanya, Kamis (31/8/2017).

Baca: Di Negara Ini, Memotong Hewan Kurban Sembarangan Dikenai Denda Rp 72,5 Juta

Hasil penelitian selama dua tahun di Kampung Badran yang dia susun dalam disertasi berjudul "Model Pemberdayaan Masyarakat Kampung Preman dalam Masyarakat Komunikatif Guyub Rukun", berhasil dipertahankan di depan tim penguji.

Ia dinyatakan lulus sebagai doktor Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat dengan predikat cumlaude di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Yuli menjelaskan, pemberdayaan masyarakat melalui gerakan membangun budaya malu itu dimulai tokoh-tokoh masyarakat yang tergerak untuk memajukan kampung.

“Di antara tokoh itu ada yang bernama Pak Bocek, yang awalnya merupakan ketua preman, walaupun resistensi masyarakat cukup tinggi, namun upaya membangun budaya malu dapat dikatakan cukup efektif," ujarnya.

Proses perubahan yang terjadi juga akibat adanya program corporate social responsibility (CSR) dari PT Sari Husada yang disebutnya sebagai akselerasi proses pemberdayaan yang diinisiasi para tokoh masyarakat.

"CSR perusahaan memang bukan satu-satunya penentu perubahan masyarakat,”katanya.

Namun CSR, ia nilai menjadi akselerator bagi tumbuhnya kesadaran dan perubahan pola pikir yang lebih kuat di masyarakat.

Baca: 18 Orang Susah Payah Sembelih Sapi Satu Ton Sumbangan Presiden Jokowi

“Faktor utama yang mengubah masyarakat tidak lepas dari kemauan masyarakat itu sendiri dan dukungan pemangku kepentingan,” tegasnya.

Namun Yuli juga mengatakan jika model pemberdayaan di kampung Badran belum tentu cocok diterapkan di kampung lain.

Dia mengingatkan, karakteristik dan kondisi psikologis masyarakat di setiap wilayah berbeda-beda dan sangat tergantung dinamika masyarakatnya.

"Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan masyarakat, karena masalah sosial terlalu kompleks dan bergerak sangat dinamis,” pungkasnya.(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved