Berkat Peran Pemuda, Kini Sudah Ada Tubing hingga Camping Ground di Desa Wisata Pandansari, Batang
Melalui wadah komunitas pecinta alam enak tentrem ora mendem (Kopal Etom), mereka sepakat untuk mengembangkan desanya.
Bahan bakunya, berasal dari singkong hasil kebun kemudian dihaluskan dan dicetak tipis untuk melalui proses pengeringan.
"Sehari bisa bikin sekitar 200 keping, dijemurnya pakai matahari."
"Jadi kalau musim hujan agak repot, produksi turun sampai separuhnya," kata dia.
Padahal permintaan opaknya tidak pernah surut, bahkan dikirim ke sejumlah kabupaten/kota di sekitar Kabupaten Batang.
Harganya pun ekonomis, satu bungkus isi 100 keping opak dibanderol hanya sebesar Rp 5.000.
Sedangkan rengginangnya dijual Rp 200 per buah.
Baca: Gara-gara Ngecas Ponsel, Dua Rumah di Batang Hangus Terbakar
"Setiap wisatawan yang datang ke sini bisa menikmati opak sambal hasil produksi masyarakat sekitar," ujar dia.
Kegigihan masyarakat dalam mengembangkan desa wisata pun membuahkan hasil, karena PLN Peduli ikut serta membantu dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana untuk mengembangkan potensi wisata di sana.
Sejumlah perlengkapan seperti perahu karet, dan peralatan mesin penggilingan untuk membuat opak diberikan PLN.
Manajer PLN Area Pekalongan, Joko Hadi Hidayat mengatakan, desa wisata tersebut bisa menjadi model untuk desa yang lainnya dapat mengembangkan potensinya masing-masing.
Sehingga setiap desa bisa mandiri dan sejumlah kegiatan dapat bergerak untuk meningkatkan produktifitas dalam mendukung kegiatan usaha.
"Program kemitraan bina lingkungan yang kami berikan ini harapannya bisa bermanfaat untuk mereka," jelas dia. (Tribun Jateng/raka f pujangga)
Artikel di atas telah dipublikasikan Tribunnews dengan judul: Mengintip Desa Wisata Pandansari di Kabupaten Batang, Ada Tubing hingga Camping Lho.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/desa-pandansari_20170906_144157.jpg)