Agar Tak Totaliter, Ini 3 Alasan Mengapa DPR RI Harus Mengawasi Eksekutif Menurut Fahri Hamzah

Menurut Fahri Hamzah, presiden bisa datang silih berganti membawa ide, gagasan dan corak kepemimpinan yang berbeda beda.

Tayang:
Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNNEWS.COM/FX Ismanto
Fahri Hamzah 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar

TRIBUNSOLO.COM - Fahri Hamzah dan Fadli Zon dikenal luas sebagai anggota DPR RI yang banyak memberikan kritik pedas terhadap Presiden RI Joko Widodo.

Sebagai anggota parlemen, keduanya, termasuk juga anggota DPR lainnya, menjalankan fungsi pengawasan terhadap Presiden Joko Widodo selaku eksekutif.

Terkait dengan pengawasan, Fahri Hamzah yang menghadiri sidang Inter Parliamentary Union (IPU) ke 138 di Jenewa, Swiss, menuangkan pandangannya dalam catatan kecil di FP Facebook, Selasa (27/3/2018).

Dalam catatan berjudul 'Indonesia Bisa Memimpin Peradaban Jika Pemimpinnya Bertenaga' itu, Fahri Hamzah mengungkapkan sejumlah alasan, mengapa parlemen harus mengawasi eksekutif.

Baca: Banjir Tawaran Manggung untuk Pilkada 2018, Evi Masamba Pasang Tarif Khusus

Berikut TribunSolo.com merangkumnya dari FP Fahri Hamzah, Selasa (27/3/2018).

1. Mengawasi institusi yang memiliki power dan senjata

Menurut Fahri Hamzah mengutip artikel pembuka IPU, parlemen adalah simbol dari supremasi masyarakat sipil yang tidak memiliki power dan senjata.

Sementara, institusi yang diawasinya, kata Fahri Hamzah, adalah institusi yang mempunyai power dan senjata.

2. Mengawasi eksekutif agar tidak totalitarianisme

Parlemen bertugas untuk menjaga roda pemerintahan agar tidak gandrung dengan totalitarisme.

Hal ini diungkapkan Fahri Hamzah mengutip misi utama IPU.

"Selain memperjuangkan perdamaian dan kerjasama antar bangsa, IPU juga memperkuat lembaga perwakilan di seluruh dunia sebagai sumbangan besar demokrasi bagi sistem pemerintahan agar tidak gandrung dengan totalitarianisme sebagai watak dasar kekuasaan," tulisnya.

Selaras dengan itu, parlemen, kata Fahri Hamzah, harus berdiri tegak dalam sistem untuk menjaga jalannya pemerintahan agar tetap menaati aturan dan konstitusi.

3. Dunia berada dalam bahaya kemanusiaan.

Menurut Fahri Hamzah, presiden bisa datang silih berganti membawa ide, gagasan dan corak kepemimpinan yang berbeda beda.

Contoh ekstremnya adalah lahirnya pemimpin dunia seperti Donald Trump.

Tanpa parlemen yang kuat dalam melakukan kontrol, maka dunia berada dalam bahaya kemanusiaan.

"Banyak pemimpin aneh di dunia sekarang, mulai yang ekstrem gila, dan bermental otoriter sampai yang ekstrem dangkal dan kosong membuat kekuasaan eksekutif yang bisa membahayakan rakyat suatu negara dan umat manusia umumnya," tulis Fahri Hamzah. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved