UNS Solo Kukuhkan Guru Besar Ilmu Akuntansi dan Ekologi
Kedua guru besar tersebut dikukuhkan oleh Rektor UNS, Ravik Karsidi didampingi Ketua Senat UNS, Suntoro.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Daryono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menggelar sidang Senat Terbuka pengukuhan dua guru besar di Auditorium UNS Solo, Kamis (5/7/2018).
Kedua guru besar tersebut dikukuhkan oleh Rektor UNS, Ravik Karsidi didampingi Ketua Senat UNS, Suntoro.
Adapun dua guru besar tersebut adalah Hasan Fauzi yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ilmu Akuntansi.
Ia merupakan guru besar ke 193 dari UNS Solo dan guru besar ke 13 yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS.
Baca: Kalahkan Wakil Jepang, Tontowi/Liliyana Lolos ke Perempat Final Indonesia Open 2018
Ia menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Kerangka Islamic Corporate Governance & Accountability (CGA) Untuk Memberikan Solusi Terhadap Permasalahan Sosial Dan Lingkungan Saat Ini.
Menurut Hasan, kegagalan kerangka Corporate Governance & Accountability (CGA) yang selama ini dibangun dengan menggunakan teori-teori sistem keuangan kapitalis.
Baik berupa Shareholder capitalism, stakeholder capitalism, dan the developmental state model of capitalism.
Oleh karenanya, diperlukan solusi teoritis yang lebih baik yaitu Islamic CGA.
"Islamic CGA yang juga boleh disebut sebagai keranga Islamic CSR merupakan Kerangka CSR Islam (i-CSR) yang sangat penting dalam mengarahkan strategi, kebijakan, dan praktik CSR entitas-entitas Islam," kata Hasan.
Sementara guru besar kedua yang dikukuhkan pada saat yang sama adalah Sunarto.
Ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ekologi/ Biologi lingkungan.
Baca: Bank Banten Resmikan Kantor Cabang Baru di Solo, Ini Alasannya
Sunarto tercatat sebagai guru besar ke 194 dari UNS Solo dan guru besar ke 13 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Dalam pengukuhannya ia menyampaikan pidato mengenai Implementasi Perspektif Agama Dalam Ekologi (Ekoteologi) Menuju Pengelolaan Ekosistem Perairan Tawar Berkelanjutan.
Menurutnya, penurunan kuantitas, kualitas dan kontinuitas air terutama terjadi pada air tawar akan berdampak pada keseluruhan komponen ekosistem dan interaksi terkait.
"Fakta memperlihatkan bahwa manusialah yang menjadi penyebab utama kerusakan," terangnya.
Ia berpendapat degradasi lingkungan, termasuk pada ekosistem air tawar adalah wujud krisis spiritualitas.
Sunarto menawarkan solusi konservasi air dengan diikuti pendekatan teologi.
" Agama harus menyentuh lini kehidupan mulai paling mendasar dalam etika memperlakukan lingkungan," pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/uns_20180705_141642.jpg)