Idul Adha 2018

Jika Terlanjur Makan Sapi Timbal, Begini Cara Menetralisir Zat Beracun yang Masuk ke Tubuh

Timbal yang masuk kedalam tubuh manusia mampu dinetralisir dengan protein dan susu.

Tayang:
Penulis: Delta Lidina | Editor: ytz
Delta Lidina/TribunStyle.com
Sapi yang hidup di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dibutuhkan kejelian untuk bisa mengetahui ciri-ciri sapi timbal.

Sapi timbal adalah sapi yang di dalam tubuhnya mengandung logam berbahaya, yaitu timbal.

Timbal (Pb) ini adalah zat yang bersifat toksik (beracun) jika masuk ke dalam tubuh manusia.

Timbal bisa masuk ke tubuh sapi saat sapi memakan sampah, khususnya sampah plastik.

Akan menjadi sangat bahaya saat daging dari sapi timbal ini dikonsumsi oleh manusia.

Bahaya yang dirasakan memang untuk jangka panjang, namun ini sangat merugikan.

Jika kamu tak sengaja telah mengonsumsi sapi timbal, tak perlu khawatir.

Dr. Pranoto, M.Sc, seorang doktor sekaligus dosen program studi Kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), UNS, membeberkan solusinya.

Timbal yang masuk kedalam tubuh manusia mampu dinetralisir dengan protein dan susu.

"Iya (bisa dinetralisir) selama kita banyak makan protein."

"Proteinnya, protein tumbuhan, misalnya tempe, tahu, atau susu yang paling cepat bereaksi," jelas Pranoto saat ditemui TribunSolo di ruangannya di Fakultas MIPA UNS, Selasa (21/8/2018).

Dr. Pranoto, M.Sc saat menjelaskan reaksi kimia yang terjadi jika Timbal (Pb) bereaksi dengan protein yang mengandung asam amino.
Dr. Pranoto, M.Sc saat menjelaskan reaksi kimia yang terjadi jika Timbal (Pb) bereaksi dengan protein yang mengandung asam amino. (Delta Lidina/TribunStyle.com)

Setelah bereaksi dengan protein yang mengandung asam amino, timbal akan keluar dari tubuh bersamaan dengan feses, urine, dan keringat.

Timbal yang mengendap di tubuh akan dilempar ke bagian kuku dan rambut.

Pranoto mengatakan untuk mengetahui tingginya kadar timbal di dalam tubuh, potongan kuku dan rambut harus dianalisa lebih lanjut di laboratorium.

"Ini (kuku) harus diambil, dipotong, lalu dites dan dianalisis kandungan Pb di tubuh kita itu tinggi nggak," lanjut Pranoto.

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved