Gagal Kuliah, Kini Mansur Sukses Bawa Kerajinan Tembaga Tumang Boyolali Mendunia Beromset Miliaran
Dia satu-satunya pemuda kampung yang merintis pemasaran produk-produk kerajinan kuningan dan tembaga milik warga ke calon pembeli.
Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Asep Abdullah Rowi
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Desa Tumang di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng) membuktikan diri bisa memancarkan "kilaunya".
Meskipun berada di kaki Gunung Merbabu, tetapi tidak membuat sejumlah anak mudanya yang dicap "Wong Ndeso", lupa dengan kampung halamannya, sehingga bisa mengharumkan tanah kelahirannya itu mendunia.
Maklum, dari jalan utama (Jalan Raya Solo-Semarang) menuju ke lokasi yang terkenal berupa kerajinan kuningan dan tembaga itu, harus melewati hamparan pepohonan layaknya memasuki kawasan hutan.
Belum lagi, jalanan rusak karena setiap hari dilewati truk pengangkut pasir dan bebatuan dari lereng pegunungan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari puncak Merbabu.
• Polda Jatim Benarkan Vanessa Angel Ditangkap di Jawa Timur Terkait Kasus Prostitusi Online
Namun, ternyata kilau Desa Tumang yang menjadi sentra industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan kuningan dan tembaga sejak 200 tahun lalu itu, membuat sejumlah anak mudanya membuat terobosan kreatif untuk mengenalkan dan memasarkan produk asli leluhurnya dulu.
Tidak hanya di pasar domestik, tetapi sat ini pun, kian mendunia dengan banyaknya permintaan pembeli yang berasal dari berbagai negara di Benua Asia, Eropa hingga Amerika.
"Dulu hanya membuat dandang (alat menanak nasi)," celetuk Muhammad Mansur kepada TribunSolo.com, Sabtu (5/1/2019).
"Sejak 200 tahun yang lalu, tetapi mulai 1980 menjadi kerajinan inovatif dekoratif."
Ya, pria 40 tahun yang didaulat menjadi Ketua IKM Kerajinan Kuningan dan Tembaga Desa Tumang itu, menjadi salah satu orang yang berperan banyak memasarkan produk handmade Tumang ke pasar ekspor.
Sejak tahun 2000 kala Mansur muda berumur 21 tahun yang lalu, dia satu-satunya pemuda kampung yang merintis pemasaran produk-produk kerajinan kuningan dan tembaga milik warga ke calon pembeli.
• Politisi Demokrat Anggap Jokowi Lebih Baper Hadapi Persoalan Bangsa Ketimbang SBY
"Di antaranya lewat online, karena sebelumnya hanya menunggu bola," aku dia.
Berbekal Rp 20.000 dari hasil membantu orang tuanya Slamet Sidig (65) dan Sakdiah (61) sebagai perajin perkakas dapur yang dijual ke Magelang dengan jalan kaki berhari-hari, Mansur muda belajar internet di pusat kota Boyolali.
"Saya sempat bantu-bantu jualan setelah gagal kuliah, karena bapak dan ibu bilang tidak punya biaya buat operasional di kuliah," kenangnya.
"Padahal saya dapat PMDK atau beasiswa dari universitas negeri di Semarang."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/muhammad-mansur-di-showroom-miliknya-di-dukuh-krajan-rt-05-rw-14-desa-tumang.jpg)