Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Pilpres 2019

Saran Sujiwo Tejo agar Mendapat Presiden yang 'Pas': Presiden Ditulari Nilai Kolektif Rakyatnya

Budayawan Sujiwo Tejo memberikan saran jika ingin mendapatkan presiden yang 'pas'.

Penulis: Fachri Sakti Nugroho | Editor: Fachri Sakti Nugroho
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Budayawan dan seniman, Sudjiwo Tejo menyampaikan deklarasi budaya di kampus Universitas PGRI Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10/2014). Dalam deklarasinya, Sujiwo Tejo menyampaikan perkembangan budaya di era modern. (Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan) 

TRIBUNSOLO.COM - Budayawan Sujiwo Tejo memberikan saran jika ingin mendapatkan presiden yang 'pas'.

Budayawan yang kerap tampil selenge'an ini memang kerap memberikan petuah-petuah bijak yang syarat makna.

Syukur-syukur, petuahnya dapat kita elaborasi bersama dan diwujudkan dalam kehidupan nyata sebagai upaya untuk menjaga kewarasan.

Omong-omong soal pas. Pas itu yang bagaimana sih?

Pertanyaan Dikirim Sebelum Debat, Sujiwo Tejo: Presiden Harus Teruji Keaktorannya, Aku Sangat Bangga

Standar atau pemaknaan orang tentang 'pas' ini mungkin beragam.

Namun satu hal yang pasti, 'pas' itu tidak kurang dan tidak lebih.

Tolok ukur sederhananya, jika presidenmu sudah melakukan tugas-tugasnya sesuai amanat konstitusi, maka dapat dikatakan bahwa presidenmu itu presiden yang pas.

Namun kita sadari betul, bahwa menjadi yang pas itu tidak mudah.

Meskipun juga tidak sulit, sebenarnya.

Kembali kepada Sujiwo Tejo. Presiden negeri Jancukers ini mengatakan, "presiden cuma ditulari nilai-nilai kolektif rakyatnya." Apa maksudnya?

Pernyataan Sujiwo Tejo tersebut disampaikan melalui kicauan Twitternya, Selasa (8/1/2019).

Kita simak dulu kicauan lengkapnya:

"Kenabian adalah tonggak.

Nabi menjalarkan nilai2 'baru' kepada zamannya.

Kepresidenan bukan tonggak.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved