Kisah Warti setelah Suami Meninggal: Tinggal di Rumah Gedek hingga Anak yang Terpaksa Putus Sekolah
Warti warga Dusun Wonosari RT 02/RW 06, Mranggen, Polokarto, Sukoharjo, yang menempati Rumah Tak Layak Huni (RTLH) menunggu bantuan dermawan.
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Warti warga Dusun Wonosari RT 02/RW 06, Mranggen, Polokarto, Sukoharjo, yang menempati Rumah Tak Layak Huni (RTLH) menunggu bantuan dermawan.
Dia bersama kedua anaknya harus rela menempati rumah yang terbilang tidak layak huni ini selama lima tahun terakhir.
"Dulu pernah ada yang survei saat suaminya masih hidup, tapi belum ada realisasi hingga saat ini," Katanya kepada TribunSolo.com, Jumat (2/2/2019).
Warti hanya bekerja sebagai petani musiman yang menggarap lahan milik orang lain saat panen.
Penghasilannya pun tidak menentu dan tidak setiap hari.
Anak pertamanya, Angga Sri Widodo (13), karena merasa dijauhi teman-temannya di sekolah.
Angga pun memilih untuk putus seklolah saat kenaikan kelas lima ke kelas enam.
Ekonomi keluarga semakin sulit saat sang kepala rumah tangga, Alm Suradi meninggal satu tahun yang lalu karena sakit.
Warti mengaku selama ini hanya mendapat bantuan dari kelompok PKK di dusunnya.
"Dari PKK pernah mendapat bantuan sekitar empat kali," katanya.
Dia mengaku ingin memiliki rumah yang layak huni, dan mensejahterakan keluarganya.
Ketua RT setempat, Sunarno mengaku pihak RT dan pemuda sedang mengupayakan bantuan untuk keluarga Warti ini.
"Dulu pernah ada survei, tapi hingga kini belum ada respons lagi," katanya.
Sekitar akhir Desember 2018, pihak desa sudah mengumpulkan jajaran masyarakat untuk membantu beban Warti agar dibangunkan rumah yang layak huni.
"Kata dari pemerintah desa mungkin pertengahan tahun 2019," katanya.
Dia menambahkan, bantuan yang diterima keluarga Warti dari Raskin dan Program Keluarga Harapan (PKH). (*)