Sidak Pedagang Makanan di Tiga Kecamatan, DKK Sukoharjo Temukan Makanan dengan Kandungan Boraks

Hingga minggu kedua bulan puasa ini, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo sudah melakukan sidak terhadap makanan di tiga kecamatan

Sidak Pedagang Makanan di Tiga Kecamatan, DKK Sukoharjo Temukan Makanan dengan Kandungan Boraks
TribunSolo.com/Agil Tri
Sejumlah petugas saat uji laboratorium makanan, di laboratorium kesehatan daerah kabupaten Sukoharjo 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Hingga minggu kedua bulan puasa ini, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo sudah melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap makanan di tiga kecamatan di Sukoharjo, yang meliputi Kecamatan Gatak, Kecamatan Nguter, dan Kecamatan Bendosari.

Sidak makanan ini dilakukan untuk mencari kandungan zat berbahaya pada makanan seperti kandungan formalin, boraks, pewarna tekstil yang dijual kepada masyarakat umum.

Menurut Plt Kepala DKK Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, tim mengambil sempel makanan dari berbagai pedagang, baik pedagang kaki lima (PKL) di pinggir jalan dan pedagang pasar.

"Kita ambil sampel makanan dari pedagang kaki lima dan pedagang yang jual di pinggir jalan seperti mi, gendar, rambak, otak-otak, gendar, cilok, dan lain sebagainya."

"Kita juga mengambil sempel makanan yang dijual di pasar tradisional seperti bakso, agar-agar (jelly), cendol, tahu, dan lain sebagainya yang kemudian kita cek ke laboraturim kesehatan daerah," katanya saat ditemui TribunSolo.com di kantornya, Jumat (17/5/2019).

Lika-liku Aktivitas PSK di Semarang Selama Ramadan, Mangkal Usai Razia, Pasang Tarif Rp 150 Ribu

Hasil dari pemeriksaan laboratorium, sejumlah makanan positif menggunakan bahan berbahaya.

"Dari tiga Kecamatan yang sudah kita periksa, paling banyak ditemukan makanan dengan kandungan boraks, lalu kandungan rhodamin, formalin, pewarna tekstil juga ada."

"Rata-rata tiga Kecamatan itu sama, ditemukan empat jenis bahan berbahaya, dan paling banyak ditemukan pada pedagang pinggir jalan," imbuhnya.

Yunia menambahkan, hal ini karena pedagang pinggir jalan (PKL) kurang mendapat edukasi mengenai makanan dengan kandungan zat berbahaya.

Halaman
12
Penulis: Agil Tri
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved