Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Sukoharjo Terbaru

Sambut HUT RI ke-74 Warga Tanjung Sukoharjo Gelar Drama Kolosal 'Merebut Kembali Jembatan Tanjung'

Menyambut Hari Ulang Tahun Indonesia ke-74, ratusan orang menggelar drama kolosal di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, Kamis (15/8/2019).

Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Fachri Sakti Nugroho
TribunSolo.com/Agil Tri
Sejumalah orang saat memainkan drama kolosal 'merebut kembali jembatan Tanjung dari tangan Penjajah' di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Sukoharjo

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Menyambut Hari Ulang Tahun Indonesia (HUT) ke-74, ratusan orang menggelar drama kolosal di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019).

Menurut sutradara dalam drama kolosal tersebut, Antonius Bimo Wijanarko, drama ini melibatkan 350 orang yang mendapat berbagai peran.

Drama ini dimotori masyarakat desa Tanjung, dan dibantu berbagai elemen masyarakat di Sukoharjo, seperti perguruan Setia Hati, perguruan Tapak Suci, Seniman Kenep, dan berbagai komunitas lainnya.

Bahkan, Polres Sukoharjo turut berpartisipasi dalam drama kolosal yang berjudul 'Merebut Kembali Jembatan Tanjung dari Tangan Penjajah'.

PT KAI Gratiskan Tiket Kereta Api Lokal & Perintis di HUT Ke-74 RI, Berikut Untuk Relasi Solo

Sejumlah orang saat memainkan drama kolosal 'merebut kembali jembatan Tanjung dari tangan Penjajah' di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019).
Sejumlah orang saat memainkan drama kolosal 'merebut kembali jembatan Tanjung dari tangan Penjajah' di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019). (TribunSolo.com/Agil Tri)

"Kita melibatkan 350 orang, yang berperan sebagai tentara Belanda, tentara Jepang, para pejuang, dan sebagai rakyat jelata," katanya.

Drama kolosal ini menceritakan tentang Jembatan Tanjung, yang merupakan jembatan penghubung antara Kecamatan Nguter dengan Kecamatan Bulu dikuasai penjajah.

Awalnya jembatan Tanjung ini dikuasai Belanda, kemudian berhasil direbut kembali para pahlawan Indonesia.

Rakyat Indonesia baru merayakan keberhasilan merebut jembatan Tanjung, kemudian Jepang datang dengan membawa janji kemerdekaan.

Namun, tentara Jepang justru kembali menjajah, dan menguasai Jembatan Tanjung.

Kemudian rakyat Indonesia melawan Jepang, dengan dimotori para pejuang Kemerdekaan.

Kemudian, pemeran tokoh proklamator, Soekarno datang untuk mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

"Jembatan memiliki filosofi sebagai pemersatu masyarakat, tidak hanya digunakan untuk menyebrang saja, karena jembatan ini sebagai penghubung dua desa," lanjutnya.

Dia berharap agar masyarakat Indonesia bisa lebih mencintai tanah air dengan tulus dan tanpa ada rasa pamrih.

Sementara itu, Kepada Desa Tanjung, Edi Nur Yanto menambahkan mengucapkan terima kasihnya kepada seluruh masyarakat yang terlibat pada acara ini.

Peringatan HUT RI Ke-74, Ini Agenda yang Akan Digelar Pemkab Sukoharjo

Sejumlah orang saat memainkan drama kolosal 'merebut kembali jembatan Tanjung dari tangan Penjajah' di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019).
Sejumlah orang saat memainkan drama kolosal 'merebut kembali jembatan Tanjung dari tangan Penjajah' di Desa Tanjung, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (15/8/2019). (TribunSolo.com/Agil Tri)

"Acara ini kita siapkan selama 7 hari."

"Semoga dengan acara ini para pemuda bisa lebih mencintai bangsa Indonesia, dan selalu memperingati Hut RI dengan kegiatan yang positif," katanya.

Di akhir drama, para pejuang mengibarkan bendera merah putih raksasa, dengan ukuran 16 meter X 12 meter, yang dikibarkan di atas Jembatan Tanjung. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved