Wisata Kuliner Solo
4 Lokasi Wisata Kuliner Solo Langganan Jokowi, dari Ayam Goreng Sampai Sate Kambing, Semua Murah
4 Lokasi Wisata Kuliner Solo Langganan Jokowi, dari Ayam Goreng Sampai Sate Kambing
TRIBUNSOLO.COM - Bicara wisata kuliner Solo, memang tak ada habisnya.
Nah, satu hal yang sering dicari pemburu wisata kuliner Solo, adalah warung atau restoran mana yang jadi langganan Jokowi.
Maklum, Presiden Jokowi, merupakan wong asli Solo.
• Wisata Kuliner Solo, Bakmi Pak Basiyo, Tempatnya Gelap Terpencil Tapi Langganan Bupati Sukoharjo
Tempat-tempat wisata kuliner Solo langganan Jokowi pun dikenal memang punya cita rasa istimewa.
Nah, mana saja wisata kuliner Solo langganan Jokowi?
Berikut TribunSolo.com rangkum :
1. Sate Kambing Pak Dahlan
Beberapa warung sate di Solo diketahui menjadi langganan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
• Wisata Kuliner Solo, Timlo Enak? Coba Dulu Timlo Kratonan di Jalan Yos Sudarso
Selain warung sate kambing Hj Bejo, warung sate kambing Pak Dahlan juga menjadi langganan Jokowi saat berada di Solo.
Warung sate Kambing Pak Dahlan beralamat di Jl Letjen Suprapto No. 69, Sumber, Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah.
Saat ditemui TribunSolo.com, Kamis (31/3/2016), pemilik warung sate, Sarbini, mengaku Jokowi dahulu sering memesan sate kambing.
"Dahulu (Jokowi) sering pesan minimal 1.000 tusuk sate kambing, " kata pria 67 tahun ini.
Jokowi dan keluarga memesan sate kambing untuk berbagai acara, seperti pertemuan dan rapat.
"Pak Jokowi terakhir ke sini (warung sate kambing Pak Dahlan, -Red) Desember (2015) lalu, )" terang Sarbini.
Selain pemilik warung sate kambing, Sarbini adalah tetangga satu RT dengan Jokowi.
Harga sate kambing satu porsi Rp 40.000.
Terdapat menu lain seperti gulai, tongseng, sate buntel, tengkleng, dan nasu goreng kambing. (*)
2. Sate Kere Tugiyem
Presiden RI Joko Widodo lahir di Surakarta alias Solo, Jawa Tengah.
Di kota yang terkenal sebagai surga kuliner ini, Jokowi memiliki beberapa rumah makan langganan.
Salah satu hidangan favorit Jokowi dan keluarga adalah sate kere buatan Tugiyem (51) yang tertelak di Jalan Arifin No 63.
Tepatnya di parkiran Depot Es Nini Thowong.
"Sate kere ini konon sudah ada sejak zaman Pasar Klewer berdiri. Kata orang dulu, sate kere ini jualnya pakai gendongan. Di atas kepala ditaruh arang bakaran. Kalau angin sedang kencang apinya nyala, jadi kadang orang kira itu kebakaran," jelas suami Tugiyem, Marimin (58) yang ditemui KompasTravel di tempatnya berjualan, Minggu (3/9/2017).
Kere dalam bahasa Jawa berari miskin.
Sate kere muncul pertama kali pada zaman kolonial.
Kala itu sate menjadi makanan mahal, ketika penjajah umumnya menyantap sate berbahan dasar daging.
Orang Indonesia kemudian menciptakan sate dalam versinya sendiri, yang tentunya berbujet minim.
Bahan yang digunakan adalah tempe, tempe gembus (terbuat dari sari kacang kedelai), dan berbagai jeroan.
Meski dibuat dari bahan yang sederhana, tetapi jangan remehkan rasanya.
Sate kere buatan Tugiyem sangat empuk dan bumbunya menyerap sempurna.
"Favorit orang-orang biasanya sate ginjal. Kalau kata orang sate saya enak soalnya bumbunya pedas," kata Tugiyem.
Bumbu yang digunakan untuk menyantap sate kere ini adalah bumbu kacang menyerupai bumbu pecel, tetapi lebih kental.
Ada rasa gurih, manis, asam, dan wangi dari daun jeruk dari bumbu kacang buatan Tugiyem.
Sebelum dibakar, sate juga direndam lagi dengan campuran bumbu rahasia sehingga seluruh bumbu terasap sempurna pada sate kere.
Meski hanya berjualan di gerobak, sate buatan Tugiyem ini sangat ramai pembeli.
"Ini bumbunya sampai sengaja dipesan orang untuk dibawa ke luar kota, sampai ke Australia dan Inggris juga. Bisa awet sampai satu bulan," kata Tugiyem.
Bersama suaminya, Marimin, Tugiyem melayani pembeli sate dari pukul 13.00 WIB sampai habis.
Di akhir pekan, Tugiyem mendapat penghasilan Rp 2 juta dari berjualan sate.
Menariknya, meski ramai pembeli, Tugiyem tidak mau pindah lokasi dan menaikkan harga.
Satu tusuk sate tempe dihargai Rp 1.500, 10 tusuk sate jeroan dihargai Rp 22.000, dan lontong dihargai Rp 3.000.
Padahal putra sulung Jokowi, Gibran Rangkabuming Raka pernah menawarkan kios kepada Tugiyem.
"Saya tidak mau, takut tidak laku kalau pindah ke kios. Gibran bilang sama saya nggak mungkin nggak laku, sate saya enak banyak dicari orang," kata Tugiyem.
Tugiyem sendiri sering diundang ke kediaman Jokowi untuk memasak sate saat ada acara khusus.
Tak terkecuali Gibran dan istri yang masih sering membeli sate langsung ke Tugiyem.
3. Ayam Goreng Mbah Karto Tembel
Momen liburan dimanfaatkan Presiden Jokowi untuk berwisata kuliner bersama keluarga. Salah satunya ke Ayam Goreng Mbah Karto di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Setelah beberapa hari lalu mencicipi Soto Gading langganan, kini Jokowi menyantap menu ayam goreng favorit di Rumah Makan Ayam Goreng Mbah Karto Tembel di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Rumah makan yang tersohor dengan ayam kampung dan aneka sambalnya ini berdiri sejak 1960-an.
Tempat makan ini memang sudah jadi langganan Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo.
Kini Rumah Makan Ayam Goreng Mbah Karto dikelola oleh generasi kedua keluarga Mbah Karto.
Menu dan racikan yang dihidangkan masih sama generasi awalnya, dan amat dijaga.
Sekilas penampakan rumah makan ini cukup sederhana, dengan sentuhan adat Jawa.
Ruang makan utamanya berbentuk pendopo kayu tanpa desain berlebihan.
Meja dan kursi juga terbuat dari kayu seperti warung makan pada umumnya.
Menu yang dipilih Jokowi saat itu ialah ayam goreng dengan sambel blondho (sambal hitam), ayam goreng disini semua berasal dari ayam kampung.
4. Soto Gading
Dimana warung soto langganan Jokowi?
Kedai Soto Gading 1 dekat Alun-alun Kidul Solo, Jawa Tengah, sudah menjadi langganan Joko Widodo sejak masih menjadi Wali Kota Solo.
Setelah menjadi presiden, ia tetap menjadi pelanggan kedai yang dioperasikan Siswo Martono sejak 1974 itu.
Siswo tidak memberi nama khusus untuk kedainya.
Kata ”Gading” yang menjadi ”merek dagang” soto itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan gajah.
Nama itu disematkan karena Siswo berdagang di daerah Gading, kawasan di selatan Keraton Kasunanan Surakarta.
Setelah 42 tahun berdagang, Siswo nyaris tidak pernah mengubah pilihan menu di warung itu.
Makanan utamanya tentu saja soto berkuah kental oleh kaldu ayam.
Makanan pendampingnya aneka penganan dan gorengan.
Jika menu tetap, harganya yang berubah mengikuti inflasi.
Namun, tetap saja terjangkau oleh banyak orang.
Semangkuk soto paling mahal Rp 13.000.
Hanya harga sepotong empal yang mengalahkan harga semangkuk soto paling mahal di warung itu.
Tidak heran, pelanggan warung itu berasal dari berbagai kalangan
Dari tujuh Presiden Indonesia, hanya Soekarno, Soeharto, dan BJ Habibie yang belum pernah ke sana.
Sementara empat presiden lain pernah menyantap Soto Gading dan makanan tambahan di sana.
Bahkan, tiga mantan presiden, yakni Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Joko Widodo, menjadi pelanggan warung tersebut. (*)