Usir Kawanan Gajah Liar Agar Tak Rusak Tanaman Padi, Petani di Pidie Aceh Harus Begadang

Ratusan petani Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, Aceh, sejak dua minggu terakhir begadang untuk mengusir kawanan gajah liar

Editor: Garudea Prabawati
TRIBUNJAMBI/TEGUH SUPRAYITNO
Ilustrasi Gajah liar di Tebo. Niat Hati Ingin Mengusir Gajah Liar, Warga Mersam, Batanghari Ini Malah Diserang dan Diinjak Gajah 

TRIBUNSOLO.COM - Ratusan petani Gampong Pucok, Kecamatan Geumpang, Pidie, Aceh, sejak dua minggu terakhir begadang untuk mengusir kawanan gajah liar agar tak memakan tanaman padi mereka yang siap panen.

Dilansir TribunSolo.com dari Serambinews.com, petani yang telah mengeluarkan modal besar dan tenaga takut kalau padi yang mereka tanam lebih dulu 'dipanen' hewan raksasa itu.

Keuchik Pucok, Kecamatan Geumpang, Tgk Samsuar, kepada Serambi, Minggu (29/9/2019) mengatakan, gangguan gajah liar sejak dua minggu terakhir semakin meresahkan petani.

Mereka khawatir puluhan hektare padi yang siap panen satu minggu ke depan menjadi incaran binatang berbadan besar tersebut.

Untuk menghalau kawanan gajah liar itu, sambung Tgk Samsuar, pihaknya bersama ratusan warga hanya mampu menggunakan mercon.

Pendiri Bebek Slamet Tutup Usia, Ini Kisah Hidupnya, Meski Kaya Raya Tetap Pakai Mobil Lawas

"Kami menggunakan mercon untuk mengusir gajah yang terpaut satu kilometer dari sawah. Penggunaan mercon memang tidak efektif, karena gajah liar itu akan kembali saat bunyi mercon hilang," ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak dua minggu ini sekitar 363 kepala keluarga menjaga sawahnya mulai pukul 17.00 WIB. Bahkan pada pukul 22.00 WIB, mereka berkumpul di dekat sawah untuk mengusir gajah bersama-sama.

"Kami pantau gajah dewasa itu lebih banyak bertahan di dekat areal sawah Gampong Pucok karena ada tanaman padi," sebutnya.

Menurut Samsuar, warganya sudah lelah mengusir hewan berbadan besar itu.

Bahkan timbul niat segelintir warga untuk mencelakakan kawanan gajah, sebab mereka sudah sangat dirugikan.

Namun rencana itu urung dilakukan, karena warga bisa berhadapan dengan hukum.

"Seharusnya pemerintah turun tangan, jangan buang badan. Gangguan gajah saat ini sudah sangat mematikan ekonomi masyarakat. Memang petugas BKSDA sudah datang ke Gampong Pucok untuk mengamati tapak gajah dan kerusakan padi petani. Tapi belum ada tindakan untuk menghalau supaya gajah itu kembali ke hutan. Masyarakat sangat sedih dengan sikap pemerintah yang terkesan tidak peduli," jelas Tgk Samsuar.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pangan dan Pertanian Pidie, Ir Sofyan Ahmad saat dikonfirmasi Serambi, Minggu (29/9) mengatakan, pihaknya tidak berwenang untuk mengatasi gangguan gajah liar. Menurutnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) lah yang seharusnya turun tangan. "Dana untuk menangani konflik satwa liar tidak diplot lagi di dinas, semuanya di BKSDA Aceh," jelas Sofyan. 

Usai Gelar Aksi di DPRD Karanganyar, Mahasiswa Lanjutkan Aksi Demo Penolakan RUU ke DPRD Solo

Pria Cianjur Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Bunuh Diri karena Frustasi Penyakit Tak Sembuh

Terpaksa Percepat Panen

Pada bagian lain, Keuchik Pucok, Tgk Samsuar mengungkapkan bahwa tak sedikit petani di wilayahnya terpaksa memanen padi lebih cepat. Padahal waktu ideal untuk panen sekitar satu minggu lagi. Tindakan itu dilakukan petani agar tanaman padinya tidak duluan 'dipanen' kawanan gajah liar.

"Petani mau tidak mau harus memanen padinya lebih cepat agar terhindar dari gangguan gajah. Mereka telah mengeluarkan modal dan tenaga untuk merawat sawahnya," jelas Samsuar. 

(naz)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Petani Geumpang Terpaksa Begadang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved