Berita Sukoharjo Terbaru

Data Kekerasan Anak Diklaim Turun, DPPKBP3A Sukoharjo Sebut Masih Ada Kasus yang Belum Dilaporkan

DPPKBP3A mencatat angka kekerasan terhadap anak di Sukoharjo ditahun 2019 ini diklaim menurun.

Data Kekerasan Anak Diklaim Turun, DPPKBP3A Sukoharjo Sebut Masih Ada Kasus yang Belum Dilaporkan
TribunSolo.com/Agil Tri
Kepala DPPKBP3A Sukoharjo, Proboningsih Dwi Danarti. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO -- Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Bencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) mencatat angka kekerasan terhadap anak di Sukoharjo ditahun 2019 ini diklaim menurun.

Kepala DPPKBP3A Sukoharjo, Proboningsih Dwi Danarti menjelaskan, selama kurun waktu tiga tahun, tingkat kekerasan anak menurun.

Di mana angka kekerasan terhadap anak tertinggi pada tahun 2017 yang mencapai 48 kasus.

Kemudian ditahun 2018, angka tersebut menurun menjadi 39 kasus.

"Ditahun 2019 ini angka kekerasan menurun menjadi 25 kasus," katanya kepada TribunSolo.com, Jumat (10/1/2020).

DPPKBP3A Sukoharjo mencatat kekerasan anak paling tinggi terjadi di Kecamatan Sukoharjo dan Grogol dengan 4 kasus.

Disusul Kecamatan Kartasura, Mojolaban, dan Baki dengan 3 kasus.

Lalu Kecamatan Nguter, Weru, dan Polokarto dengan 2 kasus, serta Kecamatan Bulu dan Tawangsari dengan 1 kasus.

Rizky Febian Mau Mengasuh Bayi 2 Bulan Anak Lina, Begini Respons Tegas Teddy

Ahok Bahagia Dikaruniai Anak ke-4, Putra Sulungnya Nicholas Sean Belum Unggah Apapun soal Adik Baru

"Sedangkan di dua kecamatan yakni Kecamatan Bendosari dan Gatak tidak ditemukan kasus kekerasan terhadap anak," jelasnya.

Meskipun tingkat kekerasan terhadap anak mengalami penurunan, namun berbagai langkah preventif terus dilakukan dengan cara sosialisasi di berbagai instansi dan kelompok masyarakat.

Ia menilai, kasus kekerasan terhadap anak merupakan fenomena gunung es, yang berarti hanya sebagian kecil kasus yang dilaporkan dan ditangani pihak berwenang.

Sedangkan sebagian besar insiden tidak atau belum dilaporkan.

Menurutnya, kasus yang melibatkan anak-anak ini rata-rata disebabkan karena kurangnya pengawasan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Namun yang menjadi faktor utama yakni penggunaan gadget. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunnewsWiki
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved