Berita Solo Terbaru

Kini Syarat Buat SIM Harus Ikuti Tes Psikologi, Ini Alasannya

Satlantas Polresta Solo akan mulai memberlakukan tes psikologi sebagai satu syarat pembuatan surat izin mengemudi (SIM).

Kini Syarat Buat SIM Harus Ikuti Tes Psikologi, Ini Alasannya
(KOMPAS.com/Gilang)
Smart SIM 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dalam waktu dekat, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Solo akan mulai memberlakukan tes psikologi sebagai satu syarat pembuatan surat izin mengemudi (SIM).

Syarat tes psikologi tersebut akan diberlakukan mulai 14 Februari 2020 mendatang.

Pembuatan SIM dengan tes psikologi ini, berdasarkan Pasal 81 ayat 4 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan juga diatur dalam Pasal 36 Peraturan Kapolri Nomor 9 tahun 2012 tentang SIM.

Wanita Asal Pekalongan Ditipu Akun Palsu yang Ngaku Anggota Polisi Solo, Uang Jutaan Rupiah Raib

Kasatlantas Polresta Solo, Kompol Busroni mengatakan, syarat tes psikologi merupakan instruksi dari Polda Jawa Tengah.

"Perkap Polri ini kan sejak tahun 2012, selama ini telah kita sosialisasikanm dan tahun ini akan kita berlakukan," katanya saat dihubungi TribunSolo.com, Rabu (12/2/2020).

Menurutnya pemilik SIM harus dipastikan kesehatan jasmani dan rohaninya, sehingga bisa mengendarai kendaraan bermotor dengan baik.

Ketika Ganjar dan Rudy Pamerkan Kebiasaan Salam Adu Bathuk Tatkala Saling Bertemu di Solo

Dimana untuk pelaksanaan tes psikologi ini melibatkan lembaga profesional psikologi yang ditunjuk Polda Jateng.

"Tes psikologi ini berlaku baik baru ataupun perpanjang dan untuk semua golongan SIM," jelasnya.

Busroni mengatakan, perpanjangan SIM juga perlu diberlakukan SIM karena dalam waktu lima tahun, kondisi psikologi seseorang bisa berubah.

Hidup di Masyarakat Majemuk, KH Dian Nafi Ingatkan akan Hal Ini dalam Merawat Toleransi

Tujuan dari tes psikologi ini sendiri diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan lalu lintas dijalan.

Pasalnya penyebab terjadinya kecelakaan kerap diakibatkan karena gangguan kondisi psikologi pengemudi.

"Intinya untuk menekan angka kecelakaan, karena psikologi masyarakat dalam berkendara itu berbeda-beda ada yang emosional, tergantung dari kondisinya."

Cara Polresta Jaga Toleransi di Solo : Antisipasi Hoax yang Menyesatkan, Gencar Edukasi Masyarakat

"Sementara berkendara itu terkait dengan norma dan tingkah laku, serta pengendara harus bisa mempertanggungjawabkan bilamana terjadi lakalantas," jelasnya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved