Canggih, Prihatin Banyak Petani Kesetrum Pria Asal Madiun Ciptakan Alat Pengusir Tikus Tenaga Surya

Sosok ini adalah Esti Raharjo, pria asal Desa Milir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, menciptakan alat pengusir tikus yang ramah lingkungan.

TRIBUNSOLO.COM - Perembangan teknologi dalam bidang pertanian dilakukan seorang pria asal Madiun, Jawa Timur.

Sosok ini adalah Esti Raharjo, pria asal Desa Milir, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, menciptakan alat pengusir tikus yang ramah lingkungan.

Kisah Siswi SD Asal Cianjur yang Dibawa Kabur Petani Selama 4 Tahun hingga Hamil

Raharjo tergerak menciptakan alat itu karena prihatin banyak petani yang meninggal tersetrum mesin pengusir tikus.

Hama tikus dahsyat yang membuat petani Kabupaten Madiun kelimpungan makin menumbuhkan semangat Raharjo. Karena, petani sudah melakukan berbagai cara membasmi tikus, menggunakan racun hingga menyetrum.

Tapi upaya itu tak memberikan hasil maksimal. Hama tikus makin menjadi menggerogoti padi milik petani.

 Setelah melakukan riset, Raharjo berhasil menciptakan alat pengusir tikus bertenaga surya. Raharjo dibantu Imron, seorang pemerhati petani.

“Kami bisa menciptakan mesin pengusir tikus yang ramah lingkungan dengan menggunakan panel surya. Panel surya itu dirubah menjadi tenaga gelombang ultrasonik untuk mengusir tikus dalam radius hingga satu hektar,” kata Raharjo kepada Kompas.com, Kamis (13/2/2020).

Raharjo mengatakan, alat itu efektif digunakan mengusir tikus dengan radius setengah hektar atau empat petak sawah jika berada di dekat permukiman warga. Jika jauh dari permukiman, alat itu efektif mengusir tikus dengan radius satu hektar.

Sebab, jika disetel maksimal, suara yang ditimbulkan alat tersebut bisa mengganggu warga. 

Cangkul Tanah, Petani Sragen Temukan Fosil Gading Gajah Raksasa Usia 700 Tahun, Ini Penampakannya

Karena itu, ia menyarankan petani tak memutar maksimal volume gelombang ultrasonik alat yang berada di dekat permukiman. 

Gelombang ultrasonik dari alat itu akan mengganggu syaraf tikus yang hendak menggerogoti padi. Hewan itu terpaksa pindah jika tak mau mati kelaparan.

Halaman
123
Editor: Naufal Hanif Putra Aji
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved