Ramadhan 2020

Ramadhan di Tengah Pandemi, MUI Sebut Zakat Bisa Untuk Penanganan Covid-19

Di saat situasi seperti ini kebutuhan pokok seperti beras pun sangat dibutuhkan bagi para terdampak corona.

Capture Youtube BNPB Indonesia
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam. 

TRIBUNSOLO.COM - Bulan Ramadhan sebentar lagi akan berakhir.

Dalam bulan Ramadhan umat Muslim tidak hanya diwajibkan berpuasa Ramadhan namun juga diwajibkan membayar zakat fitrah.

Berapa Jumlah Zakat Fitrah Tahun 2020? Zakat untuk Diri Sendiri dan Keluarga, Bisa Beras atau Uang

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada Ramadhan tahun ini masyarakat juga dihadapkan dengan pandemi virus corona yang menyerang berbagai negara di dunia.

Di saat situasi seperti ini kebutuhan pokok seperti beras pun sangat dibutuhkan bagi para terdampak corona.

Lalu apakah bisa zakat untuk masyarakat yang terdampak pandemi corona?

Dikutip dari tayangan Youtube BNPB, Sekretaris Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam, zakat merupakan ibadah mahdloh yang tak hanya simbol ketaatan kepada Allah SWT sebagai Muslim, tetapi juga untuk menjamin keadilan sosial dan solusi atas permasalahan ekonomi di tengah masyarakat.

"Zakat bisa didistribusikan untuk kemaslahatan umum, seperti untuk penyediaan APD bagi tenaga kesehatan, disinfektan, obat, dan kebutuhan para relawan Covid-19" kata Niam dalam siaran BNPB, Senin (18/5/2020).

Niam menyebut di tengah pandemi Covid-19, pembayaran zakat sebaiknya dipercepat tanpa menunggu nishab.

Hal itu agar zakat bisa segera diterima manfaatnya oleh para penerima zakat.

"Begitu pula dengan zakat fitrah, tidak perlu menunggu sampai malam 1 Syawal. Ada dua hikmah yang bisa didapat, yaitu agar manfaatnya bisa segera diterima penerima zakat dan tidak terjadi penumpukan di satu waktu," katanya.

Adapun pemanfaatan zakat, infak, dan sedekah untuk penanganan Covid-19, dikatakan Niam, harus mematuhi beberapa ketentuan.

"Penerima harus merupakan salah satu di antaranya delapan yang sudah ditetapkan, yaitu muslim yang fakir miskin, amil, mualaf yang terlilit hutang, kemudian untuk memerdekakan budak, musafir, dan atau fisabilillah," jelasnya.

Menurut Niam, ijab kabul antara pembayar zakat dan amil zakat tidak harus dilakukan dalam pertemuan secara langsung.

"MUI mengimbau para amil zakat untuk aktif menyosialisasikan teknik membayar zakat yang sesuai dengan protokol kesehatan, yaitu berbasis digital dan meminimalkan interaksi," kata Niam.

Cara Menghitung Zakat Maal Penghasilan atau Zakat Profesi, Berikut Penjelasannya

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved