Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Mengenal Sejarah PG Colomadu yang Kini Jadi Lokasi Favorit Masyarakat Untuk Berwisata

Pabrik gula ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV, raja Jawa dari Praja Mengkunegaraan yang hidup di periode 1853-1881.

kompas.com
Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV (Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV) 

TRIBUNSOLO.COM - Pabrik Gula (PG) Colomadu menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk menghabiskan liburan mereka. 

Namun, jarang dari mereka yang mengetahui sejarah dari PG Colomadu tersebut.

Cerobong asap menjulang tinggi di pinggir Jalan Raya Adi Sucipto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jika berkendara dari arah Kota Solo menuju Bandara Adi Soemarmo, bangunan megah bergaya kolonial ini tampak sangat mencolok di sisi kiri jalan.

Nagita Slavina Bantah Pakai Gas Melon 3 Kilogram, Sebut Tumpukan Gas Melon di Rumahnya untuk Syuting

Cerita WNA Inggris 6 Hari Terjebak di Bak Penampungan Air di Badung Bali, Terungkap Dari Teriakan

Halaman sayap di kiri-kanannya terasa sangat lapang. Pepohonan rindang berusia ratusan tahun di depannya kerapkali dijadikan tempat berteduh bagi pengendara-pengendara yang melintas di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Boyolali dengan Kota Surakarta.

Bangunan besar berkelir kuning gading itu merupakan sisa kejayaan dari Pabrik Gula (PG) Colomadu. Sesuai dengan angka tahun yang tertera di pintu masuknya, PG ini sudah ada sejak tahun 1861, salah satu yang tertua di Indonesia.

Manisnya komoditas gula saat zaman Hindia Belanda, khususnya pasca-era tanam paksa (cultuur stelsel) tahun 1830, membuat investasi perkebunan gula partikelir bermunculan. Manisnya komoditas gula adalah sumber kekayaan para pengusaha Eropa di Hindia Belanda. Bak jamur di musim hujan, pabrik- pabrik gula pun dibangun di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa.

Pabrik gula ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV, raja Jawa dari Praja Mengkunegaraan yang hidup di periode 1853-1881. Dia dianggap sebagai salah satu pribumi paling kaya di era Hindia Belanda.

Sebelum Mangkungera IV berkuasa, tanah lungguh milik Praja Mengkunegaran lebih banyak disewakan ke pengusaha-pengusaha Eropa untuk dijadikan perkebunan. Karena dipandang tak memberikan banyak keuntungan, dia berinisiatif memanfaatkan tanah untuk ditanami tebu dan membangun pabrik gula sendiri.

Pada abad ke-19, gula tengah jadi komoditas yang sedang naik daun. Para pengusaha paling kaya di Hindia Belanda adalah mereka yang menguasai pabrik gula dan perkebunan tebu.

Antara tahun 1859-1860, Mangkunera IV memutuskan untuk tak memperpanjang kontrak sewa tanah dengan pengusaha swasta Barat. Langkahnya diawali dengan meminta persetujuan Residen Belanda di Surakarta.

Dengan modal 400.000 gulden yang berasal dari pinjaman pengusaha Semarang Be Biaw Tjwan, sebuah pabrik gula dibangun di Desa Malangjiwan, wilayah pinggiran Kota Surakarta yang saat ini menjadi Kecamatan Colomadu yang masuk Kabupaten Karanganyar.

 Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV

Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV(Muhammad Idris (Money/Kompas.com))

Pembangunan pabrik gula diserahkan pada R. Kampf, seorang Eropa berkembangsaan Jerman yang kemudian ditunjuk Mangkunegara IV sebagai administratur setelah PG Colomadu beroperasi. Peralatan dan mesin didatangkan secara bertahap dari Eropa.

Penamaan Colomadu sendiri memiliki arti gunung madu. Nama itu mengandung makna harapan agar kehadiran pabrik gula menjadi simpanan kekayaan dalam bentuk gula pasir yang menyerupai gunung. Tahun-tahun pertama produksi, penjualan gula memberikan keuntungan fantastis.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved