Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Mengenal Sejarah PG Colomadu yang Kini Jadi Lokasi Favorit Masyarakat Untuk Berwisata

Pabrik gula ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV, raja Jawa dari Praja Mengkunegaraan yang hidup di periode 1853-1881.

kompas.com
Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV (Pabrik Gula atau PG Colomadu di Karanganyar yang dulunya dimiliki Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV) 

Raja jawa dan pengusaha pribumi

Dikutip dari informasi sejarah di museum PG Colomadu, hasil giling di tahun pertama atau tahun 1863 saja mencapai 3.700 kuintal gula. Pendapatan dari gula mampu menutup semua pengeluaran kerajaan, jauh melampaui penerimaan dari penyewaan tanah lungguh. 

Puncak produksinya terjadi di tahun 1936 yang menghasilkan gula hingga 219.000 kuintal. Kekayaan Mangkunegara IV meningkat pesat berkat manisnya gula. Sekaligus menjadikannya pengusaha pribumi paling kaya saat itu.

Di abad ke-19, pengusaha pribumi terbilang masih bisa dihitung dengan jari. Ketimbang mengelolanya sendiri, kebanyakan bangsawan Jawa saat itu lebih memilih menyewakan tanahnya kepada pengusaha Eropa dan keturunan etnis China.

Keuntungan pabrik gula digunakan untuk menggaji pegawai, membangun irigasi, jalan, merenovasi Pura Mangkunegaran, sekolah, membangun Taman Balekambang.

Termasuk saweran dengan perusahaan kereta api swasta Kolonian Belanda Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk Stasiun Solobalapan yang jadi simbol rivalitasnya dengan Keraton Surakarta. Stasiun ini dibangun di atas lapangan yang digunakan sebagai pacuan balap kuda milik Praja Mangkunegaran.

Keuntungan yang besar, membuat Mangkunegara IV berinisiatif membangun pabrik gula baru lagi. Maka pada tahun 1871, berdirilah PG Tasikmadu yang letaknya tak jauh dari PG pertama.

Pada tahun 1942 saat Jepang masuk ke Hindia Belanda, banyak tenaga kerja dipaksa ikut romusha untuk menanam padi, tanaman jarak, dan kapas. Kebijakan pemerintah militer Jepang ini membuat pabrik gula terlantar.

Tahun 1957, baik perkebunan maupun pabrik gula dikendalikan oleh Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) yang merupakan cikal bakal PTPN. Tahun 1968 atau setelah reorganisasi perusahaan-perusahaan perkebunan negara, pabrik gula ini kemudian menjadi bagian dari PTPN XVI yang berpusat di Solo.

Perkembangan Kota Solo yang semakin pesat membuat luasan perkebunan tebu terus menyusut. Sebagian Kota Surakarta saat ini, merupakan daerah dari pengembangan perkotaan di atas lahan-lahan yang dulunya digunakan sebagai area tebu pabrik gula.

Lantaran kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku tebu akibat alih fungsi lahan, produksi gula terus menyusut dari tahun ke tahun. Tahun 1996, reorganisasi kembali dilakukan pemerintah dengan memasukkan PG Colomadu masuk dalam aset PTPN IX (Persero).

Puncaknya, tahun 1997, adalah tahun terakhir masa giling tebu di pabrik gula tersebut dan secara resmi berhenti beroperasi pada tahun 1998. Selain menyusutnya bahan baku tebu, mesin yang menua dan krisis ekonomi membuat pabrik gula ini tak bisa lagi dilanjutkan.

Pendayagunaan lahan eks Pabrik Gula Colomadu dikelola oleh beberapa BUMN, yaitu PT PP (Persero) Tbk, PT PP Properti Tbk, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero), serta PT Jasa Marga Properti yang membentuk konsorsium bernama PT Sinergi Colomadu.

Sinergi beberapa BUMN inilah yang melakukan investasi dan revitalisasi pada eks Pabrik Gula Colomadu.

Tahap pertama revitalisasi, gedung eks pabrik gula dengan luas bangunan 1,3 hektar di atas lahan 6,4 hektare dengan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis yang ada, dimanfaatkan menjadi venue bernilai sejarah dan manfaat komersil.

Kementerian BUMN kemudian melakukan re-branding bekas pabrik gula ini menjadi De Tjolomadoe. Beberapa peninggalannya sengaja dipertahankan utuh seperti stasiun gilingan, stasiun ketelan, dan stasiun penguapan. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "PG Colomadu, Simbol Kekayaan Raja Jawa-Pengusaha Pribumi era Kolonial",

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved