Pengedar Upal di Klaten

Update Penangkapan Pengedar Uang Palsu Klaten :Merupakan Sindikat Bandung dan Berencana Cetak Dollar

"Setelah pecah kongsi dengan yang berada Bandung, mereka membuat sindikat dan mencetak uang palsu tahun 2018 di Semarang,"

TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
Kapolres Klaten, AKBP Edy Suranta Sitepu menunjukkan upal Rp 100 ribuan saat menggelar jumpa pers di Polres Klaten, Senin (29/6/2020) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Polres Klaten Berhasil menangkap 3 pelaku sindikat uang palsu berinisial NC (45), TH (52), dan AH (50) yang akan diedarkan di Kabupaten Klaten.

Dalam jumpa pers, Kapolres Klaten AKBP Edy Suranta Sitepu mengungkapkan jika ketiga pelaku tersebut merupakan sindikat dari luar kota.

"Mereka merupakan jaringan sindikat upal, yang ada di Bandung," kata Edy, Senin (29/6/2020).

Kronologi Penangkapan Pengedar Uang Palsu Klaten : Diringkus Saat Hendak Transaksi

3 Pengedar Uang Palsu Nyaris Setengah Miliar Rupiah Ditangkap Polisi Klaten, Ada yang Belum Dipotong

Masih Pandemi, Masyarakat Padati Waduk Cengklik Boyolali, Dari Swa Foto Sampai Bersepeda Santai

Tak sempat mengedarkan di Bandung, ketiga pelaku kemudian pecah kongsi dan membentuk sindikat lagi di Semarang beberapa tahun lalu.

"Setelah pecah kongsi dengan yang berada Bandung, mereka membuat sindikat dan mencetak uang palsu tahun 2018 di Semarang, kemudian dicetak sebanyak Rp 15 juta," ujar Edy.

Selain memalsuka mata uang rupiah, dikatakan Edy jika ketiga pelaku pun hendak mencetak mata uang dollar juga.

Hal ini dibuktikan kepolisian juga menemukan barang bukti sekitar 20 lembar eksperimen uang dolar palsu di lokasi kontrakan di Salatiga.

"Selain mencetak uang rupiah palsu, mereka juga berencana akan cetak dollar palsu," tutur Edy.

Saat ini, ketiga pelaku telah diamankan Kepolisian Resor Klaten.

"Pelaku NC berasal dari Kabupaten Pandeglang, Jawa Barat, TH berasal dari Kabupaten Muarobungo, Jambi, dan AH dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat," kata edy

Selanjutnya, ketiga pelaku akan dijerat dengan pasal 36 ayat (1) Jo (2) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

"Ketiga pelaku akan dijerat dengan kedua ayat tersebut, masing-masing dengan pidana penjara 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 10.000.000.000," ucap Edy. (*)

Penulis: Mardon Widiyanto
Editor: Ilham Oktafian
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved