Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Sejarah Kota Solo

Asal-usul Kecamatan Colomadu Terpisah dari Karanganyar : Mangkunegaran Tak Mau Lepas Daerah Emas

Asal-usul Kecamatan Colomadu Terpisah dari Karanganyar : Mangkunegaran Tak Mau Lepas Daerah 'Emas'

Penulis: Muhammad Irfan Al Amin | Editor: Aji Bramastra
http://www.karanganyarkab.go.id/
Para pekerja Pabrik Gula Colomadu atau Tjolomadoe di tahun 1928. 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Kecamatan Colomadu merupakan salah satu wilayah dari Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Adapun kelurahan dan desa yang berada di Kecamatan Colomadu berjumlah 11, antara lain :
1. Baturan 
2. Blulukan 
3. Bolon 
4. Gajahan 
5. Gawanan 
6. Gedongan
7. Klodran
8. Malangjiwan
9. Ngasem
10. Tohudan
11. Paulan

Kisah Asal-usul Nama Kota Solo : Dari Nama Pohon Sampai Sosok Ki Ageng Sala Sang Lurah Sakti

Kisah Keraton Kartasura : Saksi Bisu Perang Saudara nan Brutal, Pecahnya Mataram Jadi Jogja dan Solo

Wilayah Colomadu merupakan kecamatan di Karanganyar yang punya lokasi geografis nan unik.

Betapa tidak, wilayah Colomadu berbatasan langsung dengan 3 daerah luar Karanganyar sekaligus, yakni Kota Solo, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Sukoharjo.

Tapi yang unik, letak kecamatan ini justru terpisah jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Karanganyar.

Salah satu gang di-lockdown dengan dipasang barikade seadanya karena ada PDP Covid-19 yang meninggal di Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (12/4/2020).
Salah satu sudut Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (12/4/2020). (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

Bahkan, bila anda melihat di peta Kabupaten Karanganyar, wilayah Kecamatan Colomadu seakan menjadi cuilan kue yang terpisah dari kue utamanya.

Meski sama-sama berstatus Kabupaten Karanganyar, tapi bila dari Colomadu menuju ke kecamatan lain di Karanganyar, maka anda harus melewati kota lain terlebih dahulu.

Peta Kabupaten Karanganyar, Kecamatan Colomadu terpisah sendiri.
Peta Kabupaten Karanganyar, Kecamatan Colomadu terpisah sendiri. (www.karanganyarkab.go.id)

Itulah mengapa, Kecamatan Colomadu dapat disebut dengan wilayah eksklave.

Di kecamatan ini berdiri sebuah pabrik gula peninggalan Mangkunegaran pada abad ke-19.

Pabrik ini berdiri atas inisiasi KGPAA Mangkunagara IV yang juga dijuluki sebagai Bapak Gula Indonesia.

Sejak tahun 1998, pabrik gula Colomadu sudah berhenti beroperasi, dikarenakan semakin sempitnya lahan untuk ditanami tebu.

Saat ini pabrik gula tersebut diaktifkan kembali sebagai museum dan digunakan sebagai objek wisata baru.

Asal Usul Nama Colomadu

Kecamatan Colomadu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, dulunya sebelum Indonesia merdeka bernama Malangjiwan.

Namun saat Indonesia merdeka, Kadipaten Mangkunegaran menyerahkan wilayahnya ke pemerintah pusat.

Malangjiwan pun berubah menjadi Colomadu yang terinspirasi dari nama pabrik di wilayah itu, Pabrik Gula Colomadu (Tjoloemadoe).

De Tjolomadoe salah satu wisata menengah ke atas baru di Karanganyar
De Tjolomadoe salah satu wisata menengah ke atas baru di Karanganyar (TribunSolo.com/Garudea Prabawati)

Colomadu sendiri diambil dari dua kata, Colo bermakna gunung, dan Madu bermakna manis atau gula, sehingga pabrik colomadu dimaksudkan sebagai tempat penghasil gula (gunung gula). 

Sementara nama Malangjiwan, hari ini masih tersisa sebagai nama sebuah desa di Kecamatan Colomadu.

Pabrik Gula Colomadu berdiri atas inisiasi KGPAA Mangkunegara IV pada tahun 1861, dan sempat mengalami beberapa perluasan.

Pabrik tersebut menjadi tolak ukur modernisasi bagi Kadipaten Mangkunegaran, bahwa mereka mampu mengolah hasil bumi rakyat yang mayoritas petani tebu.

Selain itu Mangkunegara IV ingin membuktikan bahwa penguasa bisa menjadi pengusaha yang dimana kala itu perusahaan banyak dimonopoli oleh Belanda dan Cina.

Pabrik gula tersebut menjadi penguat dan pemasukkan utama bagi kas Kadipaten Mangkunegaran.

Namun saat Jepang masuk ke Indonesia, usaha pabrik gula terhenti, karena mereka fokus pada usaha penanaman padi dibanding tebu.

Sejarah berlajut, pabrik gula tersebut kembali beroperasi dan dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara.

Lambat laun, kejayaan pabrik gula tersebut kian meredup.

Pabrik gula Colomadu akhirnya berhenti beroperasi pada tahun 1998.

Saat ini pabrik bersejarah tersebut masih dikelola pemerintah di bawah naungan BUMN.

Akan tetapi telah beralih fungsi sebagai pusat wisata dengan berbagai fasilitas yang dapat diakses pengunjung.

Seperti kafe, ataupun bekas pabrik yang direstorasi sebagai museum yang dapat dinikmati oleh khalayak umum.

Terpisah dari Karanganyar

Berkedudukan di bawah pemerintahan Kabupaten Karanganyar, Kecamatan Colomadu menjadi wilayah eksklave.

Jauh dari pusat pemerintahan Karanganyar, Colomadu malah berbatasan dengan daerah lain yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Boyolali.

Pada akhirnya, masyarakat yang bermukim di Kecamatan Colomadu, apabila ingin mengurus administrasi harus menempuh jarak 30 kilometer ke pusat Kabupaten Karanganyar.

Di balik jauhnya jarak tempuh tersebut, terdapat sejarah yang menjelaskan mengapa Kecamatan Colomadu tetap berada di bawah administrasi pemerintahan Kabupaten Karanganyar.

Dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret, Susanto, menjelaskan Kecamatan Colomadu dahulu merupakan wilayah Kadipaten Mangkunegaran.

Sebelum Indonesia merdeka, Mangkunegara menguasai wilayah Karanganyar, Wonogiri, sebagian wilayah Gunung Kidul, dan beberapa wilayah yang saat ini masuk dalam Kota Surakarta.

Saat Indonesia merdeka, pemerintah pusat membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang bertugas membagi wilayah administrasi di masing-masing daerah di Indonesia.

Terutama ke beberapa wilayah yang merupakan bekas kerajaan dan kesultanan.

Setelah melalui beberapa pembahasan oleh KNID, pemerintah pusat mengeluarkan keputusan yang berbentuk undang-undang.

Undang-Undang nomor 16 tahun 1947 tentang pembentukan Haminte-Surakarta, yang memutuskan wilayah Colomadu menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar.

Keputusan tersebut tak lepas dari usaha dan lobi para pembesar Mangkunegaran yang masih menguasai Karanganyar.

Seharusnya, Colomadu memang lebih dekat untuk dimasukkan ke dalam bagian Kota Solo.

Tapi, para pembesar Keraton Mangkunegaran melobi agar wilayah Colomadu tidak tergabung dalam kuasa Pemerintahan Kota Surakarta atau Solo.

Maklum, potensi pabrik gula Colomadu kala itu menghasilkan laba sangat besar.

Maka resmilah Colomadu menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar.

Sebetulnya saat undang-undang tersebut dikeluarkan pada tahun 1947, Colomadu masih belum menjadi bagian eksklave Karanganyar.

Pasalnya, Kecamatan Mojosongo dan Kecamatan Kadipiro masih menjadi bagian dari Kabupaten Karanganyar.

Andai saja dua daerah ini masih bagian dari Karanganyar, maka Colomadu tidak akan terpisah dari Karanganyar seperti sekarang ini.

Namun seiring berjalannya waktu, terjadilah pemekaran wilayah.

Dua kecamatan tersebut, Mojosongo dan Kadipiro, akhirnya bergabung dengan Kota Surakarta.

Menurut Susanto, eksistensi Colomadu sebagai wilayah Karanganyar tak bisa dilepaskan dari nilai historinya.

Di mana wilayah Colomadu merupakan pusat modernisasi industri di masa pemerintahan Mangkunegara.

Selain itu, wilayah Colomadu juga berhubungan erat dengan Kecamatan Tasikmadu di Karanganyar.

Susanto menjelaskan Colomadu bermakna gunung madu, sementara Tasikmadu bernama pantai madu.

Gunung dan pantai, konon merupakan perwujudan simbol dari kekuasaan yang umumnya dimiliki oleh kerajaan atau keraton di nusantara.

Melalui dua simbol tersebut, Susanto menyebut bahwa Mangkunegara berusaha memperoleh simbol eksistensi kekuasaan mereka dengan mendirikan perusahaan modern yaitu pabrik gula.

Daerah Emas Karanganyar

Bupati Karanganyar saat artikel ini ditulis, Juliyatmono, menjadikan Colomadu sebagai wilayah kunjungan pertamanya ketika dilantik menjadi bupati pada Februari 2013.

Hal itu merupakan bentuk perhatiannya untuk menjadikan Colomadu sebagai wilayah sentra ekonomi Karanganyar.

Menurut Juliyatmono, Colomadu merupakan pusat ekonomi alias daerah emas.

Penyebabnya, apalagi kalau posisinya yang berdekatan dengan Kota Surakarta, yang ramai akan wisatawan.

Selain itu juga dekat dengan Kabupaten Boyolali yang ramai dengan pengunjung Bandara Adi Sumarmo.

Pertumbuhan ekonomi di Colomadu dapat tumbuh melalui bisnis barang, jasa, wisata dan industri.

Perkembangan wilayah Colomadu dapat dilihat dengan tumbuhnya kawasan-kawasan perumahan berskala besar hingga kecil.

Wilayah tersebut tersebar di beberapa desa seperti Klodran, Tohudan, Baturan, Blulukan dan Bolon. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved