Kumpulan Kutipan Jakob Oetama, Pendiri Kompas Gramedia nan Menginspirasi

Kumpulan Kutipan Jakob Oetama, Pendiri Kompas Gramedia nan Menginspirasi

Editor: Aji Bramastra
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama yang tutup usia pada 9 September 2020. 

TRIBUNSOLO.COM - Jakob Oetama, jurnalis, penulis, sekaligus pendiri Kompas Gramedia, dikenal sebagai orang yang bersahaja dan lekat dengan kemanusiaan.

Pernah menjadi guru, Jakob Oetama, yang lahir 27 September 1931 di Magelang, mendirikan Majalah Intisari dan Harian Kompas, sebelum akhirnya berkembang menjadi Kompas Gramedia, perusahaan media terbesar di Indonesia.

Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020, di usia 88 tahun.

Berikut kumpulan kutipan Jakob oetama nan menginspirasi :    

"Kesuksesan tidak diraih dengan cara-cara tidak etis... melainkan dengan mengembangkan diri dalam rel-rel etika meraih sukses. Yakni mengembangkan sikap dan semangat meraih sukses lewat perjuangan keras yang keluar dari dalam diri sendiri. Tidak melihat ke luar tetapi ke dalam,"
(tulisan Jakob Oetama di balik sampul buku Menjaga Api, karya Agung Adiprasetyo) 

"Ambisi harus dimiliki tapi harus bersikap ugahari, jangan ambisius. Dua kalimat itu harus dibangun dan dipupuk terus setiap orang yang ingin sukses,"
(Jakob Oetama dalam peluncuran buku 'Menjaga Api', karya Agung Adiprasetyo) 

"Pohon yang kita tanam berbuah mekar, berkembang sehingga jadi berkat yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang".(tulisan Jakob Oetama ketika Kompas Gramedia berusia 50 tahun)

"Semua berawal dari cita-cita besar, bukan kuatnya modal,"
(dikutip dari gerai.kompas.id)

"Bekerja itu bukan mencari nafkah namun ekspresi diri,"
(dikutip dari postingan Facebook Kompasiana menyambut ulang tahun Jakob Oetama, 27 September 2018)

"Kita tidak butuh orang pintar, kita butuh orang jujur,"
(dikutip dari postingan media sosial KompasTV, memperingati ulang tahun ke-84 Jakob Oetama)

"Pers dan wartawan itu gurunya masyarakat di tengah kebingungan dan tunggang langgangnya perubahan,"
(dikutip dari Instagram Kompas Gramedia)

"Mayat hanya bisa dikenang tetapi tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, di antaranya lewat media massa,"
(Kutipan di balik keputusan Jakob Oetama menandatangani surat perjanjian 5 Februari 1978 agar Harian Kompas bisa terbit kembali setelah dibredel)

"Hidup adalah rentetan pertanggungan jawab,"
(Intisari, januari 1965)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved