Penanganan Covid
Vaksin Dinilai Bukan Solusi Akhir Lawan Corona, Tetap Terapkan Protokol Kesehatan dengan 3M Plus 3T
Optimisme terus disebarkan, seperti yang diungkap Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro.
Ia memastikan dalam pembuatan vaksin Merah Putih, semua mengikuti protokol secara disiplin dan ketat, serta dikawal stakeholder lain seperti BPOM maupun MUI sebagai penjamin kehalalan produk.
Diperkirakan vaksin Merah Putih akan tersedia pada Triwulan ketiga tahun 2021.
Selain itu, vaksin hadir dalam jumlah besar dan siap untuk divaksinasi.
Dalam memperlancar produksi vaksin, Kementerian Riset dan Teknologi, ujar dia telah bernegosiasi dengan pihak swasta yang ingin berinvestasi dalam pembuatan vaksin Covid-19.
Bambang melanjutkan, sebagai BUMN PT Bio Farma belum bisa memenuhi produksi massal vaksin tersebut.
Sejauh ini Bio Farma memiliki kapasitas produksi 250 juta dosis vaksin per tahun.
Baca juga: Cara Meningkatkan Imunitas Tubuh ala Doni Monardo: Tambah Keimanan dan Ketakwaan
Baca juga: Tips Proteksi Diri Agar Terhindar Covid-19 dari Doni Monardo
Perusahaan swasta tersebut antara lain PT Kalbe Farma, PT Sanbe Farma, PT Daewoong Pharmaceutical Company Indonesia, PT Biotis dan Tempo Scan.
"Intinya mereka siap. Kalau sudah dapat izin dari BPOM kapasitas total kita semua bisa mencapai 1 miliar vaksin per tahun," ungkap pria yang kerap disapa Bambroj ini.
Optimisme Ditengah Keraguan Tentang Vaksin
Dirinya memahami keraguan masyarakat pada vaksin Covid-19 yang kini tengah diupayakan pemerintah dari luar dan dalam negeri.
Namun ia menekankan tujuan vaksinasi ini adalah membentuk kekebalan komunitas atau herd imunity.
Herd Imunity dibutuhkan, apalagi untuk Covid-19, sebagai penyakit yang sangat mudah menular dari satu manusia ke manusia lain, hanya melalui droplet.
"Vaksin Covid-19 ini bukan lagi kepentingan pribadi tapi kepentingan solidaritas masyarakat yang harus didorong sebagai solidaritas masyarakat karena yang kita ingin bentuk adalah vitamin kekebalan atau imunitas," jelas Bambang.
Setidaknya, 2/3 atau 180 juta masyarakat Indonesia perlu divaksinasi agar membentuk herd imunity atau kekebalan komunitas.
"Misalkan 2 orang menolak untuk divaksin, mereka tidak bisa mengatakan itu kan risiko sendiri dan akan menanggung sendiri. Jangan lupa penyakit menular, kalau tidak divaksin maka dia berpotensi menyebarkan penyakit ini ke orang lain, apalagi jika Covid-19 dan OTG," ungkap dia.
