Mengenal Penyebab dan Gejala Alergi Terhadap Makanan, Perlu Diketahui Sebelum Terlambat

Hal ini biasanya terjadi karena memiliki alergi tertentu atau memang kurang begitu suka dengan jenis makanannya.

Tayang:
Penulis: Naufal Hanif Putra Aji | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
earthclinic.com
Ilustrasi perut mual. 

TRIBUNSOLO.COM - Sejumlah individu biasanya memiliki beberapa makanan yang dihindari saat dikonsumsi.

Hal ini biasanya terjadi karena memiliki alergi tertentu atau memang kurang begitu suka dengan jenis makanannya.

Baca juga: Baik bagi Penderita Diabetes, Berikut Manfaat Lain Bawang Putih bagi Kesehatan yang Perlu Diketahui

Alergi banyak ditemukan oleh setiap individu di masyarakat, seperti alergi pada susu, telur, hingga kepiting.

Agar tidak menimbulkan reaksi di tubuh Anda perlu mendeteksi alergi yang dimiliki.

dr Tan Shot Yen selaku Dokter, Filsuf, dan Ahli Gizi Komunitas menjelaskan alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menganggap protein di dalam makanan tertentu sebagai ancaman bagi tubuh.

Guna meresponsnya, tubuh melepaskan antibodi yang disebut imunoglobulin E (IgE), guna menetralisir pemicu alergi (alergen) di dalam makanan tersebut.

Beberapa alergi ditemukan terjadi karena keturunan dari orang tuanya.

Namun, Dokter Tan menjelaskan hingga saat ini belum ditemukan penyebab alergi yang disebabkan karena keturunan.

"Kita masih belum tau hubungan antara faktor keturunan dengan alergi makanan tapi kadang memang ditemui jika orang tua alergi udang anaknya juga" jelasnya dalam tayangan Youtube TribunNews (2/10/2020).

Di dunia yang paling banyak ditemukan alergi adalah kelompok kacang-kacangan seperti kacang kedelai hingga kacang tanah.

"Kemudian yang kedua adalah ikan, bukan karena masaknya salah tapi ada protein dalam ikan yang memicu seseorang menjadi pusing gatal dan banyak gejala lainya" tuturnya.

Dokter Tan menjelasan untuk minuman susu terdapat seseorang yang intoleransi dan ada yang alergi.

"Kalau yang alergi susu biasanya betul-betul sampai mual dan muntah, terus kalau yang alergi telur biasanya putih telurnya karena ada protein tertentu" ujarnya.

Baca juga: Cara Mengurus Surat Tanda Register (STR) untuk Tenaga Kesehatan, Simak Syarat yang Dibutuhkan

Cara mengobati alergi

Melansir Buku Pengobatan Mandiri (2013) oleh Dewi Fitriani S.Si., Apt., alergi biasanya tidak dapat disembuhkan dengan obat.

Obat hanya dapat mengurai gejala alergi yang timbul.

Cara yang paling ideal adalah mengetahui dengan persis pemicu alergi dan menhindarinya. Namun, hal ini tidak selalu dapat dicapai.

Oleh karena itu, orang yang memiliki alergi perlu memilih obat untuk meredakan gejala yang ditimbulkan alergi dengan tepat.

Jika reaksi yang ditumbulkan oleh alergi cukup parah, seperti kondisi yang semakin memburuk dengan cepat, sulit bernapas, ruam yang sangat luas, atau tidak sadarkan diri, maka sebaiknya segera menghubungi dokter atau rumah sakit.

Sementara, reaksi alergi yang ringan bisa diatasi dengan obat-obatan tertentu yang mengandung loratadin, cetirizine, atau fexofenadine.

Obat alergi tersebut adalah anti-alergi yang tidak menyebabkan kantuk dan bisa digunakan untuk jangka panjang.

Loratadin dan cetirizine dimakan sehari sekali dan bisa bertahap sampai 24 jam. Tapi, cetirizine tidak disarankan untuk ibu hamil.

Dosin loratadin untuk mengobati alergi, yakni:

  • Anak 2-6 tahun: 5 mg per hari
  • Anak di atas 6 tahun dan dewasa: 10 mg per hari

Sementara, reaksi alergi yang timbul pada kuit bisa diatasi dengan mengoleskan krim yang mengandung hydrocortisone.

Sedangkan, ruam yang kecil bisa diatasi dengan kompres dingin atau es guna mengurangi gatal.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved