The Heritage Palace di Kartasura : Ada Nuansa Ala-ala Eropa hingga Museum 3D yang Instagramable

Bekas Pabrik Gula Gembongan yang kemudian disulap menjadi sebuah objek wisata bernama The Heritage Palace kini semakin populer.

Penulis: Mardon Widiyanto | Editor: Asep Abdullah Rowi
Tribun Video/Fatikha Rizky Asteria N
Halaman bangunan kuno di tempat Wisata The Heritage Palace di Kecamatan Kartasura, Sukoharjo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Bekas Pabrik Gula Gembongan yang kemudian disulap menjadi sebuah objek wisata bernama The Heritage Palace kini semakin populer.

Berada di Jalan Permata Raya, Dukuh Tegal Mulyo RT 02 RW 08, Desa Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo itu, The Heritage Palace menjelma menjadi objek wisata yang diincar wisatawan.

Bagaimana tidak, bangunan tua yang sempat terbengkalai direvitalisasi sedemikian rupa sehingga menjadi lokasi pembuang penat dan instagramable.

Pengelola Franky Hardy Sucipto, di lokasi mengatakan dalam objek wisata Heritage Palace, nantinya terbagi ada 2 bagian yaitu bagian indoor dan outdoor.

Baca juga: Gara-gara 1 Pertanyaan, Chef Renatta Terpingkal-pingkal Lihat Chef Arnold yang Sempat Tak Terima

Baca juga: Bejo Supriyanto : Petani Bawang Tawangmangu yang Terima Penghargaan Kementan Meski Hanya Lulusan SMP

"Wisata indoor ada museum transportasi, museum 3 dimensi, dan omah kwalik, sedangkan yang outdoor, ada taman dan gedung tua seperti di Eropa," kata Franki kepada TribunSolo.com, Sabtu (15/11/2020).

Lebih lanjut Franky mengatakan tarif masuk objek wisata yang sudah berdiri 2018 lalu untuk weekday dibanderol Rp 55 ribu.

Sedangkan untuk harga tiket di akhir pekan sekira Rp 60 ribu.

"Tiket tersebut berlaku terusan ke wahana lainnya, kami mulai buka pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB," kata Franki.

Franki menceritakan, asal mula adanya bangunan yang sudah sah menjadi cagar budaya sudah ada sejak 1899.

"Dulu tempat ini merupakan sebuah pabrik gula yang dikelola Belanda, untuk pasti berdirinya saya kurang tahu, tetapi di cerobong tersebut tertulis 1899 yang di mana dipercaya merupakan awal berdirinya pabrik ini," kata Franky.

Franky mengatakan tahun 1920, bangunan pabrik kala itu masih seperti rumah Limasan.

Namun, ia mengatakan akhirnya pemerintah kolonial Belanda kala itu, membuat kebijakan untuk menyamakan bangunan pabrik seperti bangunan di Eropa.

"Sekitar 1920, pabrik ini masih seperti rumah warga, seperti rumah Limasan, namun setelah itu, pemerintah Belanda saat ini mempunyai kebijakan untuk membangun pabrik tersebut seperti bangunan di Eropa," kata Franky.

Baca juga: Kabur ke Surabaya, Pelaku Pembunuhan Gadis SMA Didalam Kamar Hotel Bandungan Dicokok Polisi

Baca juga: Kenalkan Wisata di Era New Normal, Hotel di Solo Ini Gelar Famtrip Travel Agent

Lanjut, ia mengatakan setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya tahun 1945, bangunan tersebut, resmi milik PTPN.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved