Breaking News:

Berita Karanganyar Terbaru

Pengelola Hotel dan Wisata Karanganyar Diminta Bentuk Satgas Covid-19: Biar Wisata Tetap Jalan

Disparpora Kabupaten Karanganyar meminta kepada setiap pengusaha wisata dan pehotelan untuk menyiapkan satuan petugas Covid-19 dari internal mereka. 

TribunSolo.com/Muhammad Irfan
Ilustrasi: Bentuk penginapan di Wisata The Lawu Park di Gondosuli Kidul, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Sebagai tindak lanjut, Karwadi siap mengawal apabila ada hotel atau tempat wisata yang nakal atau melanggar. 

"Kami juga mendukung kalau ada kerumunan silakan ditindak oleh aparat keamanan," terangnya.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Titis Sri Jawoto, juga meminta agar kerjasama yang telah terbangun selama pandemi Covid-19 dijaga.

"Selama ini kita sudah banyak memberi kelonggaran dalam peraturan, jadi kalau misalkan ada larangan sekali ini saja tolong dipatuhi," kata dia.

Imbauan Tegas Bupati

Pemerintah Kabupaten Karanganyar secara resmi melarang adanya penyelenggaraan acara hiburan yang dapat memicu kerumunan massa. 

Bupati Karanganyar, Juliyatmono mengatakan, dirinya menekankan pentingnya protokol kesehatan di saat angka positif Covid-19 masih tinggi. 

"Kami tidak akan memberikan izin acara yang menyebabkan keramaian dan kerumunan," kata Juliyatmono kepada TribunSolo.com pada Jumat (27/11/2020). 

Baca juga: Hanya Darusalam yang Dapat Ganti Rugi Kecil Rp 1 Juta, Tetangga Lain Ada yang Terima Ratusan Juta

Baca juga: Warung Mie Ayam di Klaten Ini Ikut Tergusur Tol Solo-Jogja, Meski Belum Dibayar, Sudah Mulai Pindah

Melalui satgas Covid-19, Pemkab akan memperketat pengawasan penerapan protokol kesehatan yang berkaitan dengan kegiatan pergantian tahun baru. 

"Tidak ada pesta kembang api untuk tahun baru," terang Juliyatmono. 

Pesta tahun baru ini dilarang diseluruh wilayah Karanganyar, termasuk Tawangmangu yang selama ini banyak diburu masyarakat untuk menghabiskan waktu liburan.

Walaupun melarang kegiatan pesta tahun baru, Pemkab Karanganyar masih mengijinkan dibukanya objek wisata dengan persyaratan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. 

"Kami akan terus mengecek dan mengevaluasi, bukan objek wisata yang dilarang tapi potensi kerumunan massa yang harus dihindari," jelas Juliyatmono. 

Hingga saat ini angka penderita Covid-19 di Kabupaten Karanganyar mencapai 319 orang. 

Dilansir dari situs covid19.karanganyarkab.go.id, dari 319 orang tersebut tersebar di seluruh kecamatan dengan pembagian 167 dirawat secara mandiri dan 150 lainnya dirawat inap di rumah sakit.

Tepis Jadi Tempat Wisata Syahwat dan Esek-esek, Camat Tawangmangu Tangkal dengan Cara Ini

Bukan rahasia umum jika Tawangmangu kerap dicap wisata syahwat dan esek esek.

Cap buruk itu disebabkan adanya penginapan-penginapan yang menyediakan kamar untuk pasangan tidak resmi.

Stigma tersebut seolah menodai keunggulan Tawangmangu yang menyuguhkan wisata alam.

Camat Tawangmangu, Rusdiyanto pun tak menampik hal tersebut. 

"Biasanya hotel-hotel kelas melati yang menerima tamu seperti itu," kata Rusdiyanto pada Minggu (15/11/2020) di Kantor Kecamatan Tawangmangu.

Kendati demikian, Rusdiyanto membantah keras jika di Tawangmangu ada lokalisasi yang menyajikan PSK.

"Mereka itu datang sendiri membawa pasangannya masing-masing, bukan jajan disini," kata Rusdiyanto.

Rusdiyanto juga menjelaskan, berdirinya beberapa hotel bintang lima dengan penginapan paket keluarga, akhirnya menggeser eksistensi hotel melati.

Ia menekankan, secara tidak langsung keberadaan hotel berbintang mampu menghapus stigma buruk tersebut

"Biasanya pasangan belum menikah itu masih remaja dan suka mencari yang murah," tekan dia.

Apalagi, sambung Rusdiyanto hotel berbintang menawarkan paket penginapan keluarga.

"Sekarang sudah banyak fasilitas yang menyediakan paket keluarga dengan murah, jadi pengusaha mulai sadar ini lebih baik daripada hanya untuk pasangan tidak jelas," kata Rusdiyanto.

Kesadaran para pengusaha hotel dan villa untuk berhenti memfasilitasi kegiatan seks bebas memerlukan waktu lama.

Menurut Rusdiyanto, sempat ada tekanan dari Ormas keagamaan yang datang dan mengancam untuk menggelar razia apabila bisnis penginapan esek-esek itu tidak dihilangkan.

"Mereka kami fasilitasi dengan dialog antara Ormas dengan pengusaha, dan tanpa kekerasan kita bisa mengurangi bisnis kotor itu," kata Rusdiyanto.  

Baca juga: Berkah Libur Panjang Bagi Pedagang di Tawangmangu, Diserbu Wisatawan dari Pagi hingga Sore

LEBIH PILIH WISATA KULINER

Akhir pekan di masa pandemi Covid-19 para pengusaha hotel dan villa di sekitar kawasan Tawangmangu masih belum menunjukkan adanya peningkatan pengunjung.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ibu Gun, seorang pengelola villa di kawasan Kalisoro dekat Bukit Sekipan, Minggu (15/11/2020).

Padahal, tiap akhir pekan, ada kenaikan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Tawangmangu.

"Walaupun jalanan kelihatan macet dan ramai, tapi yang berkunjung ke villa dan hotel tidak terlalu banyak," katanya.

Baca juga: Suguhkan Pemandangan Alam dan Hewan Langka, Jembatan Bancolono Jadi Wisata Hits di Karanganyar

Baca juga: Mengenal Punden Bancolono di Tawangmangu, Tempat Bertapa Raja Brawijaya V Hingga Petinggi Negeri

Baca juga: Nyangkut di Median Jalan Solo - Tawangmangu, Evakuasi Truk Dibantu Mobil Pemadam dan Jeep

Baca juga: Potret Bonsai Santigi, Sang Juara Expo Tanaman Hias Karanganyar yang Dilirik oleh Bupati Juliyatmono

Dia yang juga anggota Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia, juga menyebut saat ini warga lebih memilih wisata kuliner daripada penginapan di Tawangmangu.

Sebab, wisatawan banyak yang memilih liburan yang praktis dan sederhana.

"Mereka lebih memilih mencari suasana makan dan lebih praktis bisa langsung pulang " jelasnya.

Selain itu, faktor Covid-19 juga mempengaruhi jumlah wisatawan yang menyewa hotel atau penginapan di Tawangmangu.

Dirinya membandingkan saat belum terjadi pandemi Covid-19, kamar di villanya selalu penuh pada saat akhir pekan.

"Biasanya Jumat itu sudah penuh terus, tapi untuk saat ini ada yang mengisi saja sudah baik," jelasnya.

Dia berharap, kondisi bisa segera pulih, sehingga perekonomian di sektor perhotelan dan penginapan di Tawangmangu bisa kembali sedia kala.

Wisata Jembatan Bancolono

Memasuki akhir pekan, kawasan Tawangmangu diramaikan oleh para pelancong dari berbagai daerah. 
Ada banyak alternatif wisata yang dapat dikunjungi, salah satunya Jembatan Bancolono.
Jembatan yang berada diantara perbatasan Karanganyar dengan Magetan ini menarik lantaran menyuguhkan pemandangan perbukitan dan Gunung Lawu sehingga bisa menjadi latar belakang yang menarik untuk swafoto.
Bahkan jika beruntung, wisatawan dapat menyaksikan hewan-hewan langka yang hinggap di sela-sela dahan pepohonan.
Salah seorang pengunjung bernama Linda menuturkan bahwa dirinya datang dari Sukoharjo hanya untuk ber-swafoto di Jembatan Bancolono. 
"Saya menemukan tempat ini dari instagram," kata Linda kepada TribunSolo pada Sabtu (14/11/2020).
Selain karena lokasinya terkenal di sosial media, foto di jembatan dapat menjadi alternatif untuk wisata ekonomis. 
"Karena disini gratis, tidak ada parkir, dan bisa bawa bekal sendiri dari rumah," kata Linda.
Pantauan TribunSolo.com, kawasan ini diramaikan oleh muda-mudi dari berbagai daerah. 
Hal ini dapat disaksikan dari nomor polisi pada kendaraan yang terparkir di pinggir jembatan. 
Akibat banyaknya motor yang terparkir sembarangan di sisi jalan, tak jarang sering menimbulkan kemacetan. 

Diketahui jika Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah kaya akan potensi wisata alam. 

Bahkan, sampai saat ini masih banyak spot yang belum diketahui.

Namun, kini satu demi satu potensi wisata yang tersembunyi mulai terekspos semenjak keberadaan Media Sosial (Medsos).

Dalam cerita perjalanan pengenalan potensi wisata di Karanganyar, banyak anak muda dari Bumi Intan Pari itu yang semangat mengeksplorasi spot-spot baru yang tersembunyi. 

Satu di antaranya adalah penggagas akun Jelajah Karangayar. 

Baca juga: Warga Pengungsian Gunung Merapi di Tlogolele Boyolali Tolak Swab Test, Dinkes : Dipengaruhi Hoax

Baca juga: Berkah Pandemi Covid-19, Penjualan Tanaman Hias di Karanganyar Meningkat, Omzet Tembus Rp 1 Juta

Pemilik akun ini, mengaku menggagas akun Jelajah Karangayar untuk memperkenalkan wisata di Karanganyar. 

Usahanya dimulai sejak tahun 2016 sampai 2020 ini. 

Dalam kurun waktu tersebut, sang pencetus akun Jelajah Karangayar yakni Eka Sapurto (39) Warga Karanganyar memiliki prinsip. 

"Saya berniat dari awal untuk mengenalkan wisata Karanganyar, itu saja," papar dia. 

Tidak ada niat untuk mencari keuntungan dan lain sebagainya.

Apalagi Eka Saputro juga penduduk Karanganyar.

Awal mula perjalanan mempromosikan wisata Karanganyar, dia mulai membuat Instagram, Facebook, dan YouTube. 

"Pengikutnya masih dikit, masyarakat yang mau kirim-kirim gambar juga jarang," terangnya. 

Namun, sedikit demi sedikit Eka berjuang bersama beberapa rekannya terus mengembangkan akun Jelajah Karangayar. 

Dia bahkan sampai rela membeli peralatan sendiri seperti drone pada zaman itu yang mencapai Rp 10 Juta.

"Ya karena saya senang, sekalian dan tidak masalah menurut saya," papar Eka. 

Selain itu, dia juga membuat website Jelajah Karangayar, yang kontennya berisi juga soal informasi wisata di Karanganyar.

"Kalau website saya kelola per tahun ada biaya Rp 1 juta/ tahun" papar dia. 

Bila dihitung sejak 2016 sampai saat ini, sudah Rp 4 juta yang dikeluarkan. 

Baca juga: Jika Gunung Merapi Kian Memburuk, BPBD Karanganyar Siap Berangkat Demi Bantu Evakuasi Warga

Baca juga: Update Corona Karanganyar 5 Novermber 2020 : Ada 188 Kasus, Paling Banyak Kecamatan Kota 45 Orang

Jadi total biaya untuk peralatan yang dia beli dan pengelolaan website ada Rp 14 juta. 

Buah dari kerja kerasnya dirasakan saat ini, konten Instagram yang dikelola sudah mencapai 28,8 ribu pengikut. 

"Kalau YouTube memang belum begitu banyak, tapi akan kami kembangkan lagi," jelasnya. 

Ada satu cerita dari Eka Saputro yang membuatnya tak bisa lupa. 

Yakni, konten yang mengangkat satu wisata di Karanganyar. 

Dia mengatakan, ada satu wisata di Karanganyar yakni Agro Rumpun Ijo yang berlokasi di Matesih, Karanganyar. 

"Ada cerita berkesan, dulu saya buat video Agro Rumpun Ijo Matesih," jelas dia. 

"Saya unggah setelah buat video itu, hari Jumat naik konten, hari Minggu pengelola menelfon saya," kata dia. 

Pengelola tersebut bercerita pengunjungnya banyak setelah diunggah di Jelajah Karanganyar. 

"Hari Minggu itu 2.500 tiket habis," papar dia. 

"Saya tidak tahu apakah karena Jelajah Karanganyar atau lainnya, saat itu pengelola telp saya mengabari itu," jelasnya. 

Yang jelas dia ikhlas memperkenalkan wisata di Karanganyar.

"Saya tidak berpaku pada keuntungan," papar dia. 

"Pengen mengenalkan wisata Karanganyar agar ramai dan berguna buat warga," tutur dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved