Penanganan Covid

Terkait 3 Juta Vaksin Sinovac, Legislator PKS Minta Pemerintah Jaga Indepedensi BPOM

Pemerintah telah menjalin kerjasama dengan vaksin AstraZeneca dan Novavax untuk mengamankan pasokan vaksin. Setelah sebelumnya vaksin Sinovac tiba.

Editor: Reza Dwi Wijayanti
Tribun Ambon/biro media_setpres
VAKSIN COVID-19 - Petugas cargo Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, mengangkut vaksin Sinovac, Corona, Selasa (8/12/2020) 

TRIBUNSOLO.COM - Vaksin Sinovac pesanan pemerintah tahap II tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (31/12/2020).

Diketahui, pemerintah telah menjalin kerjasama dengan vaksin AstraZeneca dan Novavax untuk mengamankan pasokan vaksin masing-masing sebanyak 50 juta dosis.

Di sisi lain, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Netty Prasetiyani Aher mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga independensi BPOM dalam melakukan proses review atas hasil uji klinis vaksin tahap ketiga.

Baca juga: Harap Bersabar : Bukan Warga Biasa, Penerima Pertama Vaksin Corona di Sukoharjo Adalah 6.898 Nakes

Baca juga: Lokasi Vaksinasi Covid-19 di Sukoharjo, Ada 26 Tempat Kesehatan yang Bakal Digunakan Dua Hari Saja

"Kedatangan 3 juta dosis vaksin Sinovac dan pemesanan vaksin AstraZeneca dan Novavax tidak boleh menjadi tekanan pada BPOM dalam proses review atas hasil uji klinis tahap ketiga. BPOM harus tetap bekerja secara independen dan transparan," ujar Netty, dalam keterangannya, Sabtu (2/1/2021).

Menurut Netty, jaminan independensi BPOM merupakan syarat mutlak guna membangun kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi.

"Sejak awal isu vaksin diangkat, telah menimbulkan silang pendapat yang menimbulkan keraguan publik. Oleh karena itu, Pemerintah harus mengumumkan hasil uji klinis vaksin secara transparan, akuntabel dan penuh kejujuran. Jangan ada yang ditutupi apapun hasil uji klinis tersebut," jelasnya.

Selain itu, kata Netty, pemerintah harus memastikan terpenuhinya kebutuhan vaksin sejumlah 426 juta dosis di tengah perburuan negara-negara di dunia untuk mendapatkannya.

"Pemerintah harus memiliki kebijakan lobi dan intervensi yang kuat di dunia internasional agar Indonesia diperhitungkan dan kebutuhan vaksin kita terpenuhi," ungkap Netty.

Netty juga mengingatkan pemerintah agar memastikan kualitas vaksin yang dibeli meskipun didesak oleh kebutuhan akan jumlah vaksin yang besar dan harus berlomba dengan negara-negara lain.

"Jangan sampai pemerintah mengabaikan kualitas, tingkat efikasi dan kehalalan vaksin. Kita mendatangkan vaksin bukan dengan prinsip sekadar memenuhi kuota, tapi untuk memastikan imunitas rakyat terhadap virus Corona, apalagi sekarang sudah muncul mutasi baru virus Corona," terang Netty.

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Bertambah, Epidemiolog Sebut Vaksin Bukan Solusi Ajaib Atasi Pandemi

Baca juga: Cara Cek Status Penerima Vaksin Covid-19 Gratis dari Pemerintah, Buka Laman PeduliLindungi.id

Baca juga: Cara Cek Status Penerima Vaksin Covid-19 Gratis dari Pemerintah, Buka Laman PeduliLindungi.id

Hal lain yang harus diperhatikan pemerintah, lanjutnya, adalah proses vaksinasi yang berjalan sesuai dengan SOP, teliti dan penuh perencanaan.

"Vaksinasi harus dilakukan setelah semua prosedur dipenuhi, baik dari aspek produk vaksin itu sendiri maupun kebutuhan pendukungnya. Pemerintah tidak boleh tergesa-gesa yang justru dapat berdampak buruk di kemudian harinya. Kita tidak ingin ada KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang tidak diperhitungkan sebelumnya," pungkasnya.

Catatan Redaksi:

Bersama kita lawan virus corona. Tribunsolo.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. ingat pesan ibu 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sinovac Tahap II Datang, Legislator PKS : Jangan Jadi Tekanan dalam Umumkan Hasil Uji Klinisnya

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved