Penanganan Covid

Penjelasan BPOM Terkait Tingkat Kemanjuran Vaksin Sinovac di Brazil dan Turki yang Berbeda

Vaksin Sinovac memiliki perbedaann kemanjuran di Brazil dan Turki. Padahal, vaksin memiliki desain yang sama dengan milik Indonesia.

Tayang:
Editor: Reza Dwi Wijayanti
Istimewa/Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito saat jumpa pers di Kantor Presiden, Selasa (1/9/2020). 

TRIBUNSOLO.COM - Terkait perbedaann efikasi atau tingkat kemanjuran vaksin Covid-19 Sinovac hasil uji klinik di Brazil dan Turki, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beri penjelasan.

Pasalnya, uji klinik vaksin CoronaVac (Sinovac) yang dilaksanakan di Bandung memiliki desain yang sama dengan uji klinik yang dilakukan di Brazil dan Turki. Bahkan subjeknya pada rentang usia penerima vaksin 18 sampai 59 tahun.

Meski begitu, uji klinik di Brazil memberikan efikasi vaksin sebesar 78% dan di Turki 91,25%.

Baca juga: MUI Umumkan Vaksin Covid-19 Sinovac Asal China Suci dan Halal

Baca juga: Daftar Tokoh yang Ikut Vaksinasi Perdana, Ada Nama Raffi Ahmad hingga Najwa Shihab

Baca juga: Raffi Ahmad Termasuk Penerima Pertama Vaksin Covid-19, Manajer: Sudah Terdaftar

Perbedaan efikasi antar uji klinik vaksin, Penny menjelasakan, lantaran 5di setiap negara dipengaruhi antara lain oleh faktor perbedaan jumlah subjek, pemilihan populasi subjek, karakteristik subjek, dan kondisi lingkungan.

Ia melanjutkan, hasil perbedaan tersebut bukanlah masalah selama syarat dari WHO dimana efikasi harus diatas 50% terpenuhi.

"Yang terpenting walaupun ada perbedaan nilai efikasi, regulasi persyaratan dari WHO adalah lebih besar dari 50% terpenuhi, ujar perempuan berhijab ini dalam Media Briefing Pengawalan Keamanan, Khasiat dan Mutu Vaksin Covid-19, secara virtual, Jumat (8/1/2021).

Dijelaskan Pennya, data efikasi vaksin yang diukur berdasarkan persentase penurunan angka kejadian penyakit pada kelompok orang yang menerima vaksin dibandingkan dengan kelompok orang yang menerima plasebo pada uji klinik fase 3.

Baca juga: Dinyatakan Suci dan Halal, Fatwa Utuh MUI soal Sinovac Tunggu Hasil Kajian BPOM

Baca juga: Dikira Smartphone, Ternyata Benda yang Dipegang Pemulung yang Ditemui Risma adalah Walkman

Untuk pemberian izin penggunaan darurat (EUA) dapat menggunakan data interim analisis dengan periode pemantauan 3 bulan, tetapi pemantauan harus dilanjutkan sampai 6 bulan, sehingga efikasi vaksin kemungkinan dapat berubah.

"WHO mempersyaratkan minimal efikasi vaksin COVID-19 adalah 50% dari data interim analisis 3 bulan," jelasnya.

Catatan Redaksi:

Bersama kita lawan virus corona. Tribunsolo.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. ingat pesan ibu 3M (Memakai masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Mengapa Tingkat Kemanjuran Vaksin Sinovac di Brazil dan Turki Berbeda? Ini Penjelasan BPOM

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved