Berita Karanganyar Terbaru
Anti Mainstream, Bukan Motor Apa Mobil, Sejumlah Pemuda di Karanganyar Keliling Kota Pakai Sapi
Keliling kota menggunakan sepeda, motor, hingga mobil sekalipun sudah bisa.
Penulis: Muhammad Irfan Al Amin | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Muhammad Irfan Al Amin
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Keliling kota menggunakan sepeda, motor, hingga mobil sekalipun sudah bisa.
Namun apa jadinya jika kegiatan pemuda di Kabupaten Karanganyar ini anti mainstream atau di luar batas biasanya.
Kenapa? karena mereka memilih sapi untuk menjadi tunggangan saat berkeliling Bumi Intanpari mengisi waktu luang di tengah libur pandemi.
Bukan sapi biasa, sebagian besar sapi dengan perawakan gagah dan kekar.
Mungkin harganya bisa melebihi sebuah sepeda motor kekinian sekalipun.
Salah satunya yang dilakukan oleh Anggit Setiawan (22).
Baca juga: Berniat Jalan-Jalan Tunggangi Sapi, 2 Warga Karanganyar Dicegat Petugas, Gegaranya Tak Pakai Masker
Baca juga: Viral Video Banjir Air yang Bening Rendam Masjid di Kalsel, Ternyata Begini Cerita Sebenarnya
Dalam pantauan TribunSolo.com, mereka berkeliling Kota Karanganyar dari pusat alun-alun hingga beberapa area publik.
Dirinya mengakui bahwa teman-temannya tidak hanya berasal dari Karanganyar saja, akan tetapi ada juga yang dari Klaten dan Boyolali.
"Kami setiap pekan selalu bergantian berkunjung dari kabupaten ke kabupaten," katanya pada TribunSolo.com pada Senin (25/1/2021).
"Minggu depan kami rencananya di Kecamatan Colomadu," imbuhnya.
Dalam berkeliling banyak suka duka yang dialami oleh Anggit dan kawan-kawan.
"Terkadang kalau lewat area angker sapi jadi reaktif dan berubah jadi liar," ujarnya.
Selain itu kotoran sapi yang kerap berceceran juga menjadi tantangan mereka saat berkendara keliling kota.
"Pernah suatu waktu sapi kami kencing sembarangan," tuturnya.
Demi mencegah agar sapi, tidak buang air sembarangan, Anggit memiliki sejumlah trik.
"Sebelum berkeliling jangan diberi pakan terlalu banyak, dan jarak tempuh sapi jangan terlalu jauh agar tidak capek," ungkapnya.
Anggit juga mempersilakan warga lainnya apabila memiliki waktu luang dan memiliki minat untuk menunggang sapi bisa bergabung dengan komunitasnya.
"Kami terbuka agar masyarakat tahu bahwa sapi adalah hewan istimewa dan tidak hanya berdiam di dalam kandang saja," kisahnya.
Hanya saja yang dilakukan mereka sebagai hobi, tetap melihat aturan-aturan lalu lintas sehingga tidak membahayakan orang lain.
Diamankan Polisi karena Masker
Sebelumnya, pada Selasa (18/1/2021) pagi menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Ipda Teguh Sarwono yang saat itu sedang melakukan operasi lalu lintas.
Dirinya menyaksikan dua orang warga menunggang sapi berjalan bersisian di jalan protokol di sebelah timur Taman Pancasila Karanganyar.
Namun sayangnya, kedua orang itu lalai dan melanggar protokol kesehatan yaitu tidak mengenakan masker.
"Langsung saya berhentikan dan saya tegur," kata Ipda Teguh yang juga menjabat sebagai Kanit Dikyasa Polres Karanganyar.
Dirinya tidak memberikan sanksi bahkan memberikan masker kepada dua orang itu.
Baca juga: Pedagang di Karanganyar masih Badel Tak Taati Prokes Covid-19? Dinas Perdagangan Siap Cabut Izin
Baca juga: Tidak Pakai Masker, 5 Pedagang Pasar di Karanganyar Disuruh Tutup Toko Lebih Awal & Diminta Pulang
"Langsung saya berikan masker, supaya kalau keliling lebih aman dan taat protokol kesehatan," ujarnya.
Diketahui dua orang itu berasal dari Kelurahan Jungke Kecamatan Karanganyar.
"Mereka dari Jungke memang niatnya buat jalan-jalan saja dengan mengendarai sapi," terangnya.
Tak ingin luput momen tersebut, Ipda Teguh langsung mengabadikan momen dengan kamera dan mengunggahnya ke media sosial.
"Fotonya bisa dilihat di Instagram @satlantas_polreskaranganyar," ungkapnya.
Ribuan Sapi Disubsidi
Sementara, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Klaten menganggarkan dana sebesar Rp 800 juta.
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten Widiyanti, anggaran sebesar tersebut diharapkan bisa mencukupi kebutuhan ternak di lereng Merapi satu bulan.
Ia mengatakan ia mengajukan dana untuk pakan ternak pengungsi itu melalui bantuan tak terduga (BTT) untuk memberi makan 2.000 ternak sapi milik pengungsi.
Baca juga: Kisah Ayu, Gadis yang Jadi Sopir Truk untuk Bantu Keluarga, Videonya Viral di Medsos
Baca juga: Kisah Anak Penambang Pasir Merapi, Tiap Hari Belajar Online Beralaskan Batu,Bercita-cita Jadi Dokter
“Kita ajukan melalui BTT, dicadangkan untuk itu dalam rangka kalau Merapi benar-benar erupsi, bantuan pakan ternak" jelasnya kepada TribunSolo.com, Selasa (17/11/2020).
"Kita mengajukan sesuai prediksi untuk 2.000 ekor selama evakuasi sebulan, itu kita butuh anggaran sekitar Rp 800 juta,” kata dia.
Widiyanti menyampaikan, dana sebesar tersebut akan digunakan sesuai kebutuhan, termasuk jumlah ternak yang ikut dievakuasi.
Belanja akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di lokasi.
Selain bantuan pemerintah melalui BTT, pihaknya juga menerima bantuan dari Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) berupa pakan ternak sebanyak 2 ton.
Dengan perincian satu setengah ton untuk penggemukan dan 0,5 ton untuk sapi perah.
Selain itu juga datang bantuan lainnya dari relawan berupa 1 truk ijoan dan jerami pakan ternak.
“BTT itu kita ajukan untuk pengadaan konsentrat, kemarin ada 3 ton, kita juga tidak tahu sampai kapan kondisi seperti ini, untuk sapi-sapi yang turun memang baru dari Balerante, sedangkan untuk yang lainnya baru kita siapkan,” pungkas dia.
Baca juga: Dokter Reisa: Jangan Sekali-kali Menganggap Enteng Covid-19, Dampaknya Sangat Fatal
Baca juga: Awas Banjir Sapi dari Pengungsi Merapi, Pemkab Sukoharjo Sebut Bisa Bikin Harga Anjlok,Ini Alasannya
Selain itu, pihaknya telah menyiapkan kandang komunal untuk menampung ribuan sapi milik pengungsi jika Gunung Merapi benar-benar erupsi.
Kandang komunal tersebut disiapkan di 3 desa, yakni Desa Balerante, Tegalmulyo dan Sidorejo Kecamatan Kemalang.
“Lahannya sudah ada, sudah disekat-sekat dengan bambu sesuai dengan kondisi yang ada di sana" jelasnya.
"Kalau di Balerante itu kan sudah ada yang dibuat BPBD, kalau Tegalmulyo dan Sidorejo kan masih dalam bentuk lapangan, nanti dibuat kandang dengan bambu-bambu dan dikasih terpal,” ujar dia.
Menurutnya, hingga saat ini sudah ada 128 sapi yang dibawa ke kandang komunal Desa Balerante.
Pihaknya menempatkan petugas piket di setiap kandang dengan disertai seorang dokter hewan.
Mereka bertugas untuk memeriksa kondisi hewan ternak yang datang.
“Mereka itu kalau turunkan kadang stres, kadang tidak mau makan, mungkin nanti dikasih obat sesuai dengan penyakit yang terdeteksi di situ,” katanya.
Untuk pakan ternak, saat ini para petani masih bisa mencari rumput di puncak Merapi, sebelum terjadinya erupsi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sejumlah-pemuda-berpose-dengan-sapinya-di-depan-kantor-bupati-karanganyar.jpg)