Berita Sukoharjo Terbaru

Ada Kasus Mega Korupsi Jiwasraya dan Asabri, Anggota DPR RI Dorong Holdingisasi BUMN

Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah dilakukan Holdingisasi oleh Kementrian BUMN.Ini untuk menyelematkan sejumlah BUMN yang sakit.

Tribunsolo.com/Agil Tri
Anggota DPR RI Komisi 6 Muhammad Toha. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah dilakukan holdingisasi oleh Kementrian BUMN.

Menurut anggota DPR RI Komisi 6 Muhammad Toha, penggabungan BUMN dilakukan untuk menyelematkan sejumlah BUMN yang sakit.

"Banyak BUMN yang mati. Hal itu dikarenakan adanya ketidakefisiensi dan kasus korupsi. Seperti di Jiwasraya, Asabri, dan Garuda," kata dia, Selasa (16/2/2021).

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN: PT Kimia Farma Mencari Lulusan D3/S1 untuk Posisi Ini, Simak Informasinya

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN: Bank BNI Mencari Lulusan SMA hingga S1, Simak Syaratnya

Dia menuturkan, ada sekira 140 BUMN di tanah air, dan setelah dilakukan marger akan menjadi sekira 100 BUMN.

Dari angka tersebut, ada sekira 20-30 persen BUMN yang mengalami kerugian.

Mantan Wakil Bupati Sukoharjo itu mengatakan, marger BUMN ini dilakukan kepada sejumlah BUMN yang bergerak dibidang perbankan, asuransi, hingga pangan.

Seperti holding yang menggabungkan PT Permodalan Nasional Madani (PMN) dan PT Pegadaian di bawah konsolidasi PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipercaya akan membawa manfaat besar.

"PMN, BRI, dan Penggadaian ini disatukan secara sinergis, agar semua nasabah di tiga BUMN tersebut bisa gampang aksesnya dan lebih mendapatkan manfaat," ucapnya.

"Adalagi spesifikasi perbankan, misal BRI untuk UMKM, BNI dan Mandiri untuk corporate, dan BTN untuk perumahan," jelasnya.

Selain itu, sejumlah BUMN masuk PPA untuk dibenahi. Misal pembelian pesawat oleh Garuda yang dianggap tidak efisien.

Baca juga: Info Lowongan Kerja BUMN : SIER Buka untuk 24 Posisi Lowongan Bagi Lulusan SMK, D3 dan S1

Toha mengatakan, pembelian pesawat tersebut harus ditunda terlebih dahulu. Meski saat ini masih dalam proses negoisasi.

Untuk kasus Jiwasraya sendiri, Toha mengatakan kerugian yang harus ditanggung terus meningkat.

Sebab, bunga klaim kepada nasabah nilainya tinggi dan dianggap tidak masuk akal.

"Kerugian Jiwasraya meningkat terus. Pertama itu sekitar Rp 14 triliun kerugiannya. Kemudian dihitunglagi menjadi Rp 25 triliun, kemudan naik lagi menjadi Rp 35 triliun," jelasnya.

"Kalau sampai pertengahan 2021 belum di restrukstisasi bisa sampai Rp 50 triliun," imbuhnya.

Selain itu, BUMN pangan juga dilakukan holdingisasi.

Hal ini untuk menyederhanakan akses pangan dan juga untuk menstabilkan harga dan ketersediaan pangan. Karena pangan itu berhubungan langsung dengan masyarakat.

Dia berharap dengan program holdingisasi ini, proses Holdingisasi ini dapat berjalan efektif. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved