Heboh soal PP Royalti, Bagaimana Nasib Pengamen yang Menyanyikan Lagu Orang Lain?
Dalam PP tersebut, termuat kewajiban pembayaran royalti bagi setiap orang yang menggunakan lagu dan/atau musik secara komersial.
TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA --Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2021 terkait Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik, resmi ditandatangi Presiden Joko Widodo pada 30 Maret 2021 lalu
Dalam PP tersebut, termuat kewajiban pembayaran royalti bagi setiap orang
yang menggunakan lagu dan/atau musik secara komersial dan ataupun pada layanan publik.
Adapun kebutuhan komersial yang dimaksud yakni, siapapun yang menggunakan lagu dan/atau musik dari pemilik hak cipta yang ditujukan untuk mencari keuntungan ekonomi.
Baca juga: Buckingham Berduka, Pangeran Philip Meninggal Dunia di Usia 99 Tahun
Baca juga: Viral Video Anjing di Bali Rajin Minta Makanan ke Wanita Pedagang Gorengan, Ini Cerita di Baliknya
Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana nasib pengamen jalanan yang kerap membawakan lagu hasil karya cipta orang lain?
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Kementerian Hukum dan HAM RI Freddy Harris mengatakan, secara aturan dalam PP Nomor 56, pengamen jalanan memang merupakan objek dari penarikan royalti.
Namun kata dia, untuk pengamen jalanan ada perlakuan khusus yang tidak harus disikapi sama seperti objek lainnya.
"Kalau pengamen di jalan kalau dapatnya seribu dua ribu hanya untuk makan, secara aturan harusnya kena, tapikan gapernah kita ambil (royaltinya)," kata Freddy saat jumpa pers secara daring, Jumat (9/4/2021).
Dengan begitu kata Freddy, pengamen jalanan jika secara aturan memang dikenakan royalti, karena mengambil keuntungan ekonomi.
Kendati demikian, jika dilihat dari segi keuntungan ekonomi yang didapat, maka kata Freddy ada perlakuan khusus yang membuatnya tidak layak untuk dikenakan royalti.
"Secara aturan dia (pengamen) kena, kalau melalui peraturan ini, kan dia mengambil keuntungan ekonomi," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo terbitkan Peraturan pemerintah mengenai Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu atau Musik.
Peraturan Pemerintah bernomor 56 tahun 2021 tersebut diteken Presiden pada 30 Maret lalu.
Melalui aturan tersebut pemerintah membentuk Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).
Lembaga tersebut adalah lembaga bantu pemerintah nonAPBN yang dibentuk oleh Menteri berdasarkan Undang-Undang mengenai Hak Cipta yang memiliki kewenangan untuk menarik, menghimpufl, dan mendistribusikan Royalti serta mengelola kepentingan hak ekonomi Pencipta dan pemilik Hak Terkait di bidang lagu dan/atau musik.
Nantinya lembaga tersebut yang akan menghimpun dana kewajiban pembayaran royalti dari masyarakat yang menggunakan lagu untuk kepentingan komersil.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kemenkumham Jelaskan Nasib Pengamen Jalanan di Tengah Kegaduhan PP Royalti
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi-pengamen.jpg)