Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Sragen Terbaru

Momen Hari Lahir Pancasila, Bupati Sragen Sindir Ada Kaum Muda Lebih Hafal Tanggal Lahir Jungkook

Di tengah momen Hari Lahir Pancasila1 Juni, ada sindiran untuk kaum muda dari Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Penulis: Septiana Ayu Lestari | Editor: Asep Abdullah Rowi
Twitter/Soulmate_KookV
Jungkook dan V BTS di konser Speak Yourself Final. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Di tengah momen Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, ada sindiran untuk kaum muda dari Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Orang nomor satu di Bumi Sukowati itu menyayangkan ada sebagian generasi muda yang mulai abai Pancasila.

"Permasalahannya adalah pancasila di era sekarang, bagi generasi penerus bangsa kadang diabaikan, lebih hafal budaya K-popnya, tanggal lahirnya Jungkook," jelasnya kata dia kepada TribunSolo.com, Selasa (1/6/2021).

Baca juga: Kenapa Hari Lahir Pancasila Diperingati Pada 1 Juni? Ternyata Begini Sejarah Awalnya

Baca juga: Soal Video Bupati Alor Marahi Staf Kemensos, Begini Tanggapan Mensos Risma

Agar generasi muda lebih memahami makna Pancasila, Yuni setuju jika kembali dimasukkan ke dalam kurikulum.

"Harusnya masuk kurikulum, sekarang jadi pendidikan kewarganegaraan, saya dulu ikut penataran P4 2 minggu, itu yang membuat lebih paham," tambahnya.

Dia berharap generasi muda tidak lupa makna yang terkandung dalam 5 sila Pancasila.

"Semoga masyarakat Indonesia, generasi bangsa ini tidak lupa dan menerapkan pancasila dalam kehidupan sehari-harinya," katanya.

Makna Bagi Gibran

Sementara itu di tempat terpisah, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya mengimplementasikan nilai nilai Pancasila.

“Ya harus membumikan pancasila, dan ya harus mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

“Ya khususnya di kota Solo kami (Pemkot) misalnya memakai beskap atau menggunakan baju adat di hari kamis,” ujarnya.

Baca juga: Lahan Eks TPS Bonoloyo Disulap Jadi Kebun Bibit Tanaman Hias, Ribuan Bibit Disiapkan

Baca juga: Melegenda, Soto Girin Sragen Sudah Berdiri Selama 68 Tahun, Artis - Pejabat Pernah Mampir

Menurut Gibran implementasi nilai pancasila yang dilakukan wali kota Solo, Gibran Rakabuming sampaikan beberapa poin penting dari Pancasila.

“Sila pertama dan sila kelima, kalau dari instruksi harus dibiasakan dipraktekan diimplentasikan di kehidupan sehari hari,” urainya.

“Ya pokonya di lingkungan keluarga, di lingkungan kerja, ya kan di lingkungan balai kota tahu sendiri seperti apa, ” paparnya.

Sejarah 1 Juni

Tanggal 1 Juni menjadi tanggal bersejarah bagi Kota Surakarta.

Hal tersebut dikarenakan Kota Surakarta yang dahulu berbetuk kerajaan atau kasunanan harus merelakan wilayahnya untuk menjadi bagian dari Provinsi Jawa Tengah Indonesia. 

Baca juga: Sejarah Stasiun Jebres, Ternyata Gegara Nama Orang Belanda Jeep Reic, Dibaca Jebres sama Orang Solo

Padahal sebelumnya Kasunanan Surakarta sudah ikut bergabung dan menyatakan diri bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Besar harapan Surakarta akan bisa mendapatkan posisi yang sama dengan Yogyakarta yang telah mendapatkan kedudukan sebagai daerah istimewa. 

Namun pergolakan dan revolusi di Surakarta membuat kondisi Kasunanan tidak stabil. 

Ditambah lagi Sunan Paku Buwono XI, memimpin di kala usianya masih belia. 

Sehingga kerusuhan seperti penculikan dan penyerangan istana tidak dapat dikendalikan. 

Kerusuhan ini disebabkan oleh para pemuda revolusioner yang berada di bawah kepemimpinan Tan Malaka yang menolak adanya sistem kerajaan monarki dalam konstitusi Indonesia. 

Menurut Anggi Farizqie, peneliti sejarah UGM, para pejuang revolusioner kala itu berpikiran bahwa Kasunanan Surakarta penuh campur tangan Belanda. 

"Setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang memecah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Surakarta sangat dipengaruhi oleh Belanda," katanya pada Selasa (1/6/2021). 

Kebencian rakyat terhadap pemimpin baik raja dan perdana menteri kala itu semakin tidak dapat dikendalikan. 

Dikarenakan konflik di dalam tubuh kasunanan tidak berkesudahan, akhirnya pemerintah pusat membentuk Komite Nasional Daerah yang dipimpin oleh Raden Pandji Suroso. 

"Bulan September 1945 komite itu dibentuk, dan berusaha menengahi sejumlah konflik," ujarnya. 

Hingga akhirnya pada 1 Juni 1946, Kasunanan Surakarta dilebur ke Provinsi Jawa Tengah. 

"Termasuk Kadipaten Mangkunegaran juga ikut disatukan ke dalam Kota Surakarta," jawabnya. 

Dengan dibentuknya pemerintah Kota Surakarta, maka berakhirlah pemerintahan tradisional dengan sistem monarki dan membuat Kasunanan Surakarta hanya sebagai simbol budaya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved