Geger Varian Mutasi Covid-19 Baru, Pemerintah Yakin Vaksin Ampuh Lawan Varian Baru

kurva kenaikan Covid-19 terus meningkat secara signifikan, cermati beberapa gelaja Covid-19 mutasi baru

Editor: Azfar Muhammad
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Berikut ini update jumlah pasien virus corona secara global per Senin (18/5/2020) pagi. 

TRIBUNSOLO.COM -  Akhir-akhir ini kurva kenaikan Covid-19 terus meningkat secara signifikan, tidak hanya di Jakarta namun juga di berbagai daerah di Indonesia.

Sehubungan dengan itu, telah ditemukan kasus Covid-19 berjenis atau varian baru yang merupakan mutasi dari virus

Covid-19 dari berbagai negara seperti varian delta dan India.

Adapun beberapa indikasi dan gejala bagi mereka yang mengeluhkan penyakit yang mematikan ini.

Diantaranya gejala tersebut seperti gejal sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek yang  menjadi gejala yang paling

sering dilaporkan terkait dengan infeksi Covid di Inggris.

Baca juga: Apa Itu Varian Corona B16172 atau Delta? Begini Efeknya Dalam Tubuh: Lebih Cepat Menular

Baca juga: Gibran Dicurhati Pasien Asal Solo, Ogah Isolasi di Asrama Haji Donohudan : Takut Corona Jenis Delta

Seperti laporkan yang dilansir dari BBC, Prof Tim Spector menjalankan studi Zoe Covid Symptom mengatakan, tertular varian Delta bisa terasa "seperti pilek" bagi orang yang lebih muda.

Namun meskipun mereka mungkin tidak merasa sakit parah, mereka bisa menulari dan membahayakan orang lain.

Siapa pun yang mengira mereka mungkin memiliki Covid harus melakukan tes.

Gejala Covid klasik yang harus diwaspadai orang, kata NHS, yaitu:

- batuk

- demam

- kehilangan bau atau rasa

Prof Spector mengatakan, tiga gejala itu tidak lagi umum sekarang, berdasarkan data yang diterima tim Zoe dari ribuan orang yang mencatat gejala mereka di sebuah aplikasi.

"Sejak awal Mei, kami telah melihat gejala teratas pada pengguna aplikasi - dan daftar gejala itu tidak sama seperti sebelumnya," katanya.

Perubahan itu tampaknya terkait dengan peningkatan varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India.

Demam tetap cukup umum tetapi kehilangan penciuman tidak lagi muncul di 10 gejala teratas, kata Prof Spector.

Baca juga: Jika Tertular Corona Varian Baru dari Kudus, Warga Klaten Bakal Ditempatkan di Isolasi Terpusat

Baca juga: Presiden Jokowi Panggil Jajaran Pejabat DKI Jakarta : Untuk Tekan Kasus Covid-19 & Kebut Vaksinasi

Perasaan Tidak Enak

"Varian ini tampaknya sedikit berbeda," tambah Prof Spector.

"Orang-orang mungkin mengira mereka baru saja terkena flu musiman dan mereka masih nekat pergi ke pesta dan mereka mungkin menyebar ke enam orang lainnya." katanya.

"Kami pikir ini memicu banyak masalah."

"Pesan di sini adalah bahwa jika Anda masih muda, Anda akan mendapatkan gejala yang lebih ringan."

"Ini mungkin hanya terasa seperti pilek atau perasaan 'tidak enak' saja, tetapi tetaplah di rumah dan lakukan tes."

Gejala Lain

Sementara itu, studi Imperial College London terhadap lebih dari satu juta orang di Inggris - ketika varian Alpha atau

Inggris dominan - menemukan berbagai gejala tambahan yang terkait dengan Covid.

Baca juga: Alasan Gibran Batalkan Kick-off Piala Wali Kota 20 Juni, Pilih Undurkan Jadwal : Gegara Varian Baru

Baca juga: Gibran Dicurhati Pasien Asal Solo, Ogah Isolasi di Asrama Haji Donohudan : Takut Corona Jenis Delta

Menggigil, kehilangan nafsu makan, sakit kepala dan nyeri otot bersama-sama paling kuat terkait dengan terinfeksi, di

samping gejala klasik.

"Ada beberapa gejala lain yang terkait dengan Covid-19," katanya.

"Gejala-gejala lain ini mungkin memiliki penyebab lain."

"Jika Anda khawatir dengan gejala, carilah bantuan medis."

Baca juga: Presiden Jokowi Panggil Jajaran Pejabat DKI Jakarta : Untuk Tekan Kasus Covid-19 & Kebut Vaksinasi

Pemerintah Yakin Vaksin Ampuh Lawan Virus Varian Baru

Pemerintah meyakini bahwa vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia sekarang ini masih ampuh melawan varian delta virus Corona B1617.2 yang tersebar di sejumlah daerah.

Efektivitas vaksin yang digunakan di Indonesia baik itu Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, dan lainnya di atas 50 persen.

"Secara keseluruhan, sekarang ini masih. Karena efektivitas di atas 50 persen masih terpenuhi," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam Konferensi pers virtual yang disiarkan Youtube Sekretariat Presiden, Selasa, (15/6/2021).

Terkait varian virus baru tersebut, Wiku mengatakan bahwa pada prinsipnya setiap virus pasti akan mengalami mutasi. Virus melakukan mutasi untuk bertahan hidup.

Baca juga: Buntut Klaster Kudus, Pesta Nikah di Wonogiri Dilarang & Wisata Ditutup, Nekat Urus KTP Tak Dilayani

"Dan proses mutasi dia, bisa berlangsung terus menerus apabila potensi untuk menular tersedia. Atau penularan tetap terjadi," katanya.

Para ahli kesehatan di dunia, kata Wiku terus melakukan penelitian terhadap mutasi virus yang terjadi. Termasuk efektivitas vaksin yang dikembangkan terhadap virus Corona yang bermutasi.

"Penelitian lebih lanjut harus selalu dilakukan agar vaksin yang dipakai adalah vaksin yang efektif," katanya.

"Artinya semua akan melihat kondisi ini dan memastikan bahwa vaksinasi yang dilakukan benar-benar bisa memberikan proteksi kolektif atau herd immunity dari masyarakat yang divaksinasi," pungkasnya.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa varian virus Corona B1617.2 India mendominasi penyebaran Covid-19 di Kudus (Jateng), Bangkalan (Jatim), dan DKI Jakarta.

Hal itu kata Budi telah dilaporkan kepada Presiden Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, (14/6/2021).

Baca juga: Jika Tertular Corona Varian Baru dari Kudus, Warga Klaten Bakal Ditempatkan di Isolasi Terpusat

"Kami juga menambahkan melaporkan juga ke beliau (Jokowi), kenapa ini penting karena beberapa daerah seperti Kudus kemudian, DKI Jakarta dan juga di Bangkalan memang sudah terkonfirmasi varian deltanya atau B1617.2 atau juga varian dari India mendominasi," kata Budi usai rapat terbatas.

Kondisi tersebut kata Budi menjadi perhatian serius. Meskipun belum terbukti lebih mematikan varian virus Corona tersebut telah terbukti penyebarannya lebih cepat.

"Karena ini penularannya lebih cepat walaupun tidak lebih mematikan," katanya.

Presiden kata Budi telah memerintahkan untuk mempercepat vaksinasi Covid-19 serta memperketat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Ke-dua langkah tersebut diharapkan dama meminimalisir penyebaran varian baru Corona.

"Arahan bapak presiden tadi bahwa, satu implementasi di lapangan untuk penerapan PPKM mikro, dan kedua akselerasi vaksinasi dijalankan," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sakit Kepala dan Pilek, Gejala Covid-19 yang Berkaitan dengan Varian Delta atau Varian India

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved