Virus Corona
Benarkah Vitamin D Bisa Tangkal Covid-19? Farmakolog UGM Beri Penjelasan
Memang ada beberapa tingkat literatur jika tubuh membutuhkan asupan vitamin D. Terutama pada sakit dan alami infeksi.
TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Pernyataan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari jika vitamin D bisa bikin seseorang tidak tertular Covid-19 kini menjadi sorotan.
Benarkah pernyataan itu dalam kajian ilmiah?
Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, Prof DR APT Zullies Ikawati pun buka suara.
Baca juga: Kasus Covid-19 Indonesia Pecah Rekor Lagi, Kini Bertambah 47.899 Kasus Positif, 864 Pasien Meninggal
Baca juga: Viral Kisah Penyintas Covid-19 Minta Susu Beruang Malah Dibelikan Susu Anak-anak, Begini Ceritanya
Menurutnya, memang ada beberapa tingkat literatur jika tubuh membutuhkan asupan vitamin D.
Terutama pada sakit dan alami infeksi.
Vitamin D secara umum bisa diperoleh dari makanan biasa.
Misalnya minyak, telur, ikan dan sebagainya.
Di sisi lain, tubuh bisa melakukan sintesis vitamin D.
Ginjal dan hati pun dapat mengubah vitamin D aktif yang dapat digunakan tubuh untuk meningkatkan peresapan kalsium dan kesehatan tulang.
Untuk mengaktifkan proses tubuh menghasilkan vitamin D, maka dibutuhkan sinar matahari. Maka amat disarankan pada tubuh untuk berjemur.
"Tubuh menghasilkan free vitamin D. Untuk mengaktifkan tersebut, maka dibutuhkan ultraviolet," ungkapnya pada acara Dialog Interaktif Nasional (Diginas) yang diadakan Tribunnews, Rabu (14/7/2021).
Sebetulnya ada catatan yang mengungkapkan kebutuhan harian vitamin D bagi setiap orang.
Rata-rata kebutuhan harian manusia untuk vitamin D adalah 600 IU.
Namun, saat menderita Covid-19, maka vitamin D yang digunakan untuk terapi bisa lebih dari pada itu.
Zullies sendiri mengaku saat terkena Covid-19 membutuhkan sampai vitamin D hingga 5000 IU per hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/vitamin-d-apakah-bisa-melawan-covid-19.jpg)