Breaking News:

Berita Persis Solo

Romantisnya Derby Mataram : Persis Solo Kena Kibul Kolonial Belanda, PSIM Jogja Ulurkan Tangan

Derby Mataram antara Persis Solo dan PSIM Jogja bukan hanya soal anarkis tiap laga, tapi juga perihal keromantisan antar kedua klub.

GONANG SUSATYO/BOLASPORT.COM
Koreografi suporter Persis Solo di pertandingan lawan PSS Sleman, Minggu (24/9/2017). 

TRIBUNSOLO.COM - Derby Mataram antara Persis Solo dan PSIM Jogja bukan hanya soal anarkis tiap laga, tapi juga perihal keromantisan antar kedua klub. 

Keromantisan dua klub tersebut, satu diantaranya terjadi saat era kompetisi perserikatan. 

Lebih kurang medio tahun 1935, dua tahun setelah Stadion Sriwedari diresmikan R NG Reksodiprojo.

Sebelum masuk ke sana, mungkin tidak ada salahnya menyinggung sedikit soal kehadiran Stadion Sriwedari. 

Toh, stadion itulah yang jadi saksi keromantisan Persis Solo dan PSIM Jogja.

Dilansir dari Juara, kelahiran Stadion Sriwedari tidak bisa dilapaskan dari keterlibatan Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X. 

Pada tahun 1932, keinginan penguasa Keraton Solo tersebut untuk memiliki stadion berkelas internasional muncul.

Baca juga: Prancis Kampiun UEFA Nations League, Manchester United Buntung : Varane Absen Lawan Leicester ?

Baca juga: Head to Head Persis Solo vs PSIM Jogja : Pantang Bikin Laskar Mataram Ulang Pesta 4 Gol di Manahan

Pemicunya, klub-klub lokal kurang leluasa memakai lapangan-lapangan yang ada di Solo. 

Mereka 'cuma' bisa memakai lapangan depan Istana Pura Mangkunegaran, serta alun-alun utara dan selatan Keraton Kasunanan Surakarta.

Kondisi itu membuat PB X memerintahkan utusannya untuk menyelesaikan transaksi pembelian tanah di sebelah barat Taman Sriwedari.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved