Ternak Ayam Jago Bangkok Thailand, Pemuda Ini Berhasil Untung Hingga Rp 20 Juta per Bulan
Dari beternak Ayam Jago Bangkok Thailand, Pemuda di Magelang ini berhasil untung hingga Rp 20 juta per bulan.
TRIBUNSOLO.COM - Seorang pemuda asal Dukuh Pagaran, Desa/Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Beny Setiyawan pandai melihat peluang.
Dirinya melihat banyak orang memelihara ayam jago impor Thailand, tapi belum banyak yang berternak.
Termotivasi, dirinya langsung memulai beternak ayam jago Bangkok (Thailand) tersebut.
Hasil yang didapat membuat pemuda se desanya termotivasi ikut-ikutan pingin belajar beternak.
Usai empat tahun beternak ayam jago Bangkok sejak didirikan 2017 lalu, Beny merekrut beberapa karyawan dari pemuda setempat.
Bahkan untuk usahanya itu, setiap bulannya dia bisa meraup untung hingga Rp 20 juta.
Baca juga: Wanita Ini Mendadak Tajir Usai Divaksin Covid-19, Dapat Hadiah Rp 10,5 Miliar, Kok Bisa?
Baca juga: Viral Anggaran Keluarga dengan Gaji Rp 2 Jutaan Bisa Cicil Rumah hingga Sedekah, Begini Kisahnya
"Harga per ekor ayam jago impor bervariasi, tergantung jenis dan kesempurnaan fisik ayam jago impor itu, secara spesifik menyebut harga per ekor sulit. Selain itu, saya juga tidak enak sama pembeli di sini yang dijual kembali," kata Beny kepada SURYA.CO.ID, Sabtu (6/11/2021).
Saat ini, kata Beny, ayam impor Thailand yang di ternak ada lebih 300 ekor, ayam-ayam tersebut langsung didatangkan dari Thailand. Dipilihnya langsung impor dari Thailand, karena jenis atau trah masih murni belum turunan.
"Untuk pejantan ada enam varian ayam jago impor pilihan dan sudah dikenal di Indonesia juga negara asal, mungkin juga negara lain penyuka ayam jago impor Thailand," kata Beny.
Beberapa varian ayam jago impor itu, ungkap Beny, di antaranya untuk pejantan, jenis Mangon import (Yokeere Junior) Kowsem Farm, Pama IQ import (Meeswan Blood Line) PMP Farm, Pakoi Import (TNN Farm) dan ninja samurai Blood Line Import (Meechai Farm).
Untuk jenis betina, lanjut Beny, yang akan menelurkan jago-jago impor trah murni ayam Thailand yaitu trah Pakoi import Black Swan Junior (Mr Nurut Saelo), Pakoy Durian BL , Black bull BL, Gray Snack BL (Korn Lampang), Pama IQ, Pamangon IQ, dan Mangon IQ (PMP Farm).
Dari ke 300 ekor ayam jago impor yang didatangkan dari Thailand itu, yang siap dijualan anakan umur satu bulan hingga tiga bulan. Dari hasil penjualan anak-anak turunan trah ayam impor ini, Beny mengaku ini bisa raup keuntungan Rp 8 juta hingga Rp 20 juta.
"Itu sudah bersih, potong gaji 5 karyawan, pakan, obat-obatan (jamu), listrik (oven) dan lain-lainnya," ungkap Beny sambil tersenyum.
Dikatakan Beny, keterterikannya beternak ayam jago impor Thailand, sejak sekolah jenjang SMP. Sebelum ternak ayam impor Thailand, ternak ayam Jowo Super (Joper) sudah dilakoninya. Tapi karena Joper sulit dalam pemasaran, akhirnya tertarik ternak ayam impor Thailand ini.
"Tapi setelah ternak ayam Joper kesulitan, saya masih mencoba ternak ayam kampung (Jowo), baru ayam Thailand ini," katanya.
Menurut Beny, untuk pemasaran ayam impor Thailand, tidak hanya di lokal karesidenan Madiun, namun sudah tembus hampir seluruh pulau di Indonesia.
"Banyak pelanggan datang dari luar pulau. Mereka ini kebanyakan untuk dijual kembali, makanya saya secara spesifik menolak menyebut harga per ekor," kata Beny.
Kendala yang dihadapi untuk saat ini cuaca, karena pergantian suhu yang tidak menentu membuat perawatan ayam impor membutuhkan perawatan ekstra.
"Karena ketika ada ayam yang tidak sehat satu, maka akan berdampak atau menular pada ayam keseluruhan dalam satu kandang,"ujar pria murah senyum ini.
Kadang di peternakan ayam impor Thailand Beny terlihat dibagi-bagi. Ada empat kandang ayam impor siap jual, ada tiga kandang breeding (pembiakan) dan satu kandang perawatan dari ayam umur enam bulan sampai sembilan bulan.
Baca juga: Seorang Istri Sewa Pembunuh Bayaran Habisi Nyawa Suami, Alasannya Korban Suka Selingkuh
Baca juga: Viral Cerita Wanita Bongkar Perselingkuhan Suami dengan Teman SMA Lewat Chat, Reuni Jadi Petaka
"Ayam impor Thailand ini, rata-rata siap jual di umur satu bulan hingga tiga bulan,"ungkap Beny.
Dikatakan Beny, untuk pemasaran ayam jago impor ini, sampai hari ini masih mengandalkan media sosial (medsos).
"Saya tertarik beternak ayam impor, selain hobi juga keuntungan yang menjanjikan, terbilang besar. Lainnya pingin mendidik teman-teman muda di desa ini untuk mencintai beternak," kata Beny.
Permodalan sampai saat ini masih ditangani sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Termasuk dari pabrikan pakan atau instansi.
"Dengan modal yang saya miliki, terutama doa dan tekad, saya masih bisa mengandalkan keuangan sendiri. Saya ingin beternak mandiri," pungkas Beny.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/beny-setyawan-merawat-ayam-jago-impor-magetan-dfh.jpg)