Kenapa KKB Papua Tak Takut Serang Aparat hingga Dua Prajurit Gugur? Pengamat: Mereka Kuasai Medan

Indonesia kembali berduka, sebanyak 10 prajurit menjadi korban dalam serangan terbaru kelompok separatis di Papua.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Facebook TPNPB
KKB Papua. 

TRIBUNSOLO.COM, PAPUA -- Indonesia kembali berduka, sebanyak 10 prajurit menjadi korban dalam serangan terbaru kelompok separatis di Papua.

Diberitakan, kelompok separatis melakukan serangan Pos Satgas Mupe Yonif Marinir-3 di Distrik Kenyam, Nduga, Papua.

Akibat serangan tersebut, dua personel marinir gugur dan lainnya mengalami luka-luka.

Adapun anggota marinir yang gugur adalah Danpos Letda Mar Iqbal dan Pratu Mar Wilson Anderson.

Kelompok yang melakukan penyerangan itu diduga dipimpin oleh Egianus Kogoya.

Baca juga: Serda Rizal Gugur Ditembak KKB Papua, Semasa Hidup Dikenal Salih dan Rajin Puasa Senin Kamis

Baca juga: Pesawat Rimbun Air Ditemukan dalam Kondisi Hancur, Jatuh di Daerah Rawan KKB Papua

Terkait dengan penyerangan itu, Pengamat Intelijen dan Terorisme Stanislaus Riyanta menyebut, mereka menang medan.

"Ini harus diantisipasi. Karena kelompok-kelompok separatis teroris di Papua ini menguasai medan, karena mereka sehari-hari di sana dan hafal medan," kata Stanislaus, saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (27/3/2022) siang.

"Jadi, dia (KKB) mencari titik lengahnya, kemudian mencari kapan waktu yang tepat melakukan serangan, dan mereka juga tahu titik dari mana harus menyerang," ujarnya.

"Ini dalam istilahnya ada tactical geat. Jadi, secara tactical mereka menguasai dan menang. Ketika ada prajurit diserang mendadak ya terjadi seperti ini," lanjutnya.

Sementara itu menurut Stanislaus, dikabarkan senjata yang digunakan kelompok tersebut merupakan senjata rampasan.

"Jadi beberapa kali aksi mereka merampas dari personel TNI, lalu mereka gunakan senjata itu untuk melawan aparat," ungkapnya.

Agar tidak kalah dalam medan, kata Stanislaus, harus ada peningkatan kualitas prajurit TNI untuk lebih menguasai medan, contohnya adanya perekrutan terhadap masyarakat asli Papua untuk menjadi prajurit TNI lebih dimaksimalkan.

"Saya yakin sudah ada orang asli Papua yang bertugas di situ, tapi mungkin belum cukup," ungkapnya.

Selain itu, kata Stanislaus, TNI juga harus meningkatkan kualitas prajuritnya saat bertugas, seperti kualifikasi perang hutan, perang gerilya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved