Kolom Opini

Harta, Takhta, Kerajaan

Sudah saatnya Keraton Solo dipandang bukan lagi karena konfliknya, tapi budayanya.

Editor: Aji Bramastra
TRIBUNSOLO.COM/CHRYSNA PRADIPHA
Kori Kamandungan Lor, Keraton Kasunanan Surakarta, difoto Kamis (23/3/2017) siang. 

Ditulis oleh: Ginda Ferachtriawan
Anggota Komisi IV DPRD Solo, Kerabat Keraton Solo

Anggota Komisi I DPRD Solo, Ginda Ferachtriawan, Kamis (17/1/2019).
Ginda Ferachtriawan

Belum lama ini Keraton Solo mendapatkan kritik tajam dari pegiat sejarah. Komunitas sejarah dan budaya di Kota Solo, Solo Societeit, mempertanyakan eksistensi Sasana Pustaka di Keraton Solo yang hilang ditelan bumi beberapa tahun terakhir.

Alih-alih menjadi rujukan yang komprehensif terkait Keraton hingga perjalanan bangsa Indonesia, fasilitas itu justru tertutup bagi masyarakat umum. Hal ini kontras dengan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran yang rutin melayani pengunjung, bahkan di masa pandemi Covid-19.

Pengelola Sasana Pustaka mengklaim fasilitas tersebut masih terbuka untuk para peneliti. Apabila melihat Keraton sebagai pusat budaya, sulitnya publik mengakses kekayaan manuskrip bersejarah di Sasana Pustaka tentu menjadi bencana kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Jika merunut lebih jauh, minimnya akses ke Sasana Pustaka tak lepas dari konflik berkepanjangan antara kubu Raja Keraton Solo, Paku Buwana XIII dengan Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo.

Posisi Sasana Pustaka memang berada di dalam Keraton dengan akses masuk melalui Kori Kamandungan. Hingga saat ini kubu LDA yang dipimpin GKR Wandansari (Gusti Moeng) tidak diizinkan masuk Keraton.

Sebelum isu Sasana Pustaka mencuat, konflik internal membuat rencana renovasi belasan titik bangunan Keraton terkatung-katung. Pemerintah gamang menggelontorkan dana bantuan karena kisruh yang tak berkesudahan sejak PB XII mangkat.

Selain pembangunan fisik, atmosfer interaksi sosial serta pelestarian budaya di kawasan cagar budaya tersebut kini semakin redup. Saat ini kegiatan rutin seperti latihan menari jarang ditemui di lingkungan Keraton.

Padahal saat saya masih kecil dulu, selalu ada latihan menari untuk kerabat, abdi dalem dan masyarakat setiap hari Minggu. Kegiatan tersebut menjadi kawah candradimuka penari-penari handal yang nantinya mentas menyajikan Bedhaya Ketawang saat Jumenengan Raja.

Sejak konflik internal memanas tahun 2017, latihan karawitan di Keraton, pendidikan pambiwara (MC) di Bangsal Marcukundha, belajar geguritan dan macapat di Sasana Parasdya hingga siaran langsung RRI di Bangsal Smarakata juga berangsur hilang.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved