Rakyat Bakal Menjerit Bila Harga Pertalite & Elpiji Kompak Naik, Ekonom Ingatkan Dampaknya ke Negara

Inflasi tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu karena aktivitas masyarakat semakin pulih sehingga permintaan semakin melonjak.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
ILUSTRASI - Petugas tengah menata gas elpiji 3kg 

TRIBUNSOLO.COM -- Saat ini wacana kenaikan sejumlah komoditas tengah jadi sorotan.

Pemerintah sudah membahas soal kenaikan harga Pertalite, tarif PPN, dan Elpiji 3 kilogram secara bertahap.

Kebijakan itu terlalu berisiko menurut Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Ia memprediksi Indonesia akan menghadapi 4 skenario proyeksi inflasi tahun ini.

Yakni skenario inflasi terendah di atas 2,5 persen dan tertinggi mencapai di atas 5,5 persen.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, skenario pertama yakni tingkat inflasi Indonesia tahun ini diprediksi di atas 2,5 persen.

Baca juga: Siap-siap Ya, Pemerintah Beri Sinyal Tarif Listrik, Harga Pertalite, Solar, & Elpiji 3 Kg Bakal Naik

Baca juga: Wacana Pemerintah Naikkan Harga Pertalite dan Elpiji 3 Kg, Ada Kaitan dengan IKN? Ini Kata Pengamat

Hal itu bisa terjadi meski pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pertamax.

Kata dia, inflasi tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu karena aktivitas masyarakat semakin pulih sehingga permintaan semakin melonjak.

Tercatat, inflasi Indonesia pada tahun 2021 adalah sebesar 1,8 persen.

“Jadi artinya tanpa ada tambahan kebijakan tadi (PPN dan Pertamax naik) sebetulnya sudah lebih tinggi jauh lebih tinggi dibanding tahun kemarin yang 1,8 persen,” kata Faisal seperti dikutip dari Antara, Rabu (20/2/2022).

Kemudian, skenario kedua yaitu tingkat inflasi tahun ini diprediksi di atas 3,5 persen.

Proyeksi itu akan jadi kenyataan, karena pemerintah sudah menaikkan PPN menjadi 11 persen dan kenaikan harga Pertamax pada April.

Lantas, skenario ketiga yaitu tingkat inflasi tahun ini diperkirakan di atas 5 persen. Skenario ini berlaku dengan syarat seperti skenario kedua, ditambah potensi kenaikan harga Pertalite yang diasumsikan menjadi Rp9.000.

Sedangkan kenario terakhir yakni tingkat inflasi diperkirakan mencapai di atas 5,5 persen apabila skenario kedua ditambah skenario ketiga serta adanya kenaikan harga gas LPG tiga kilogram menjadi Rp20.000.

“Ini potensinya kenaikannya bisa di atas 5 persen, bahkan 5,5 persen kalau semua (PPN 11 persen serta harga Pertamax, Pertalite dan LPG tiga kilogram naik) dilakukan," ujar Faisal, dilansir dari Kompas.tv.

Ia menambahkan, lonjakan inflasi akan menghantam daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, sehingga berdampak terhadap pemulihan dan pertumbuhan ekonomi.?

“Ini akan terasa dampaknya kepada masyarakat. Inflasi ini akan dirasakan berbeda oleh masyarakat kelas atas dan bawah, itu akan jauh berbeda,” tuturnya.

Sementara itu, pemerintah dalam APBN 2022 memproyeksikan inflasi tahun ini sebesar 3,0±1 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat inflasi sepanjang Januari sampai Maret 2022 sebesar 1,2 persen. (*)

Sumber: Kompas TV
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved