Mengenal Kirab Ruwat Rawat, Bukti Peninggalan Lebih dari 1000 Tahun di Lereng Timur Merapi Merbabu

Untuk memperkenalkan bukti sejarah ini, Boyolali Heritage Society (BHS) menggelar kegiatan kirab dan pertunjukan seni pada Rabu (25/5/2022).

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM
Ruwat Rawat Prasasti Sarungga dimulai dengan kirab gunungan hasil bumi dari pelataran Makam Wonosegoro, Cepogo ke sebuah bukit diatasnya. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Sebelum abad ke-10 masehi, di lereng timur Merapi-Merbabu sudah berdiri sebuah peradaban manusia yang sangat maju.

Hal itu dibuktikan dengan adanya prasasti batu tulis Sarungga yang ada di ladang milik warga Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamata Cepogo.

Baca juga: Prasasti Batu Sarungga di Cepogo Boyolali : Bukti Peradaban Maju, Tahun 901 Sudah Mengenal Tulisan

Untuk memperkenalkan bukti sejarah ini, Boyolali Heritage Society (BHS) menggelar kegiatan kirab dan pertunjukan seni pada Rabu (25/5/2022).

Kegiatan bertajuk ‘Ruwat Rawat Prasasti Sarungga itu dimulai dengan kirab gunungan hasil bumi dari pelataran Makam Wonosegoro, Cepogo ke sebuah bukit diatasnya.

Sebelum dibawa naik, dua gunungan hasil bumi lengkap dengan lauk pauk, palawija, hingga ayam ingkung ditata rapi di pelatan makam yang letaknya lebih tinggi ketimbang rumah penduduk.

Ruwat Rawat Prasasti Sarungga itu dimulai dengan kirab gunungan hasil bumi dari pelataran Makam Wonosegoro, Cepogo ke sebuah bukit diatasnya.
Ruwat Rawat Prasasti Sarungga  (TRIBUNSOLO.COM)

Dipelataran itu juga ada seorang laki-laki yang tengah memahat patung Dewi Tara alias dewi penolong.

Dua gadis muda yang ada di sebelahnya pun juga nampak sibuk menulis pada media sumpring atau pelepah bambu

Setelah diperhatikan, kedua gadis yang bernama Putri dan Vera itu nampak lagi menulis sebuah kalimat dengan aksara jawa.

Tak lama kemudian, setelah seluruh ubo rampenya lengkap, seluruh hasil bumi tersebut kemudian di kirab ke sebuah hamparan luas yang ada di atas makam tersebut.

Beberapa perempuan berpakaian jawa dengan lemah gemulai yang berada di barisan paling depan itu kemudian memimpin kirab.

Ruwat Rawat Prasasti Sarungga itu dimulai dengan kirab gunungan hasil bumi dari pelataran Makam Wonosegoro, Cepogo ke sebuah bukit diatasnya.
Ruwat Rawat Prasasti Sarungga (TRIBUNSOLO.COM)

Kondisi geografis yang ada di kaki gunung Merbabu menjadikan kontur jalan terus menanjak sepanjang perjalanan kirab.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo mengatakan melalui kegiatan pihaknya ingin memperkenalakn kepada masyarakat mengenai prasasti Wonosegoro ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat banyak yang mengetahui tentang adanya bukti sejarah yang berusia 1.121 tahun.

Baca juga: Kuliner Enak di Boyolali: Iga Bakar Pak Wid yang Legendaris, Lezat dan Harganya Ekonomis

“Kalau yang sudah mengetahui biar bisa ikut merawat bukti sejarah ini,” jelasnya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved