Berita Boyolali Terbaru

Kampung di Kaki Gunung Merbabu Ini Punya Pantangan Unik, Dilarang Nanggap Wayang

Gelaran wayang kulit selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Spanduk Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI- Gelaran wayang kulit selain menjadi hiburan bagi masyarakat, juga ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Tak salah seni tradisional ini sampai saat ini masih banyak penggemarnya, meskipun di tengah banyaknya hiburan modern.

Tapi, di Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali ada hal yang terasa aneh soal pagelaran Wayang ini.

Baca juga: Azka Corbuzier Putra Semata Wayang Deddy Corbuzier Dikabarkan Akan Susul Sang Ayah Jadi Mualaf

Baca juga: Saat Raja Mangkunegoro X KGPAA Bhre Rayakan Ultah Bareng Kakak, Nanggap Wayang Kulit Semalam Suntuk

Dimana, di perkampungan yang ada di kaki Gunung Merbabu itu, pantang digelar pertunjukkan wayang kulit.

Warisan leluhur yang sudah ada sejak puluhan tahun itu sampai sekarang masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan pantangan menggelar wayang itu ada. Begitu pula dengan asal usulnya.

Hanya saja, warga meyakini jika pantangan tersebut ada berkaitan dengan Watu Kelir (Batu bentuk kelir wayang).

Baca juga: Siap-siap, Situs Kandang Wayang di Jenar Sragen Bakal Jadi Lokasi Wisata Andalan karena Keunikannya

Suprapto mengaku jika pantangan tersebut sudah ada sejak dirinya kecil.

Dia yang kini berusia 50 itu, tak pernah melihat adanya warga atau Dukuh yang menggelar wayangan.

“Sejak saya kecil tidak pernah ada wayangan disini. Warga tidak ada yang berangi nanggap (menggelar wayang),” jelasnya.

Mengenai petaka yang akan menimpa warga yang melanggar itupun tak ada yang tahu.

Baca juga: Wayang Mini Made in Semanggi, Dipilih Kementerian Jadi Suvenir Resmi Delegasi G20 di Solo

Pasalnya, selama dia tinggal disini tak ada warga yang menggelar wayangan sehingga musibah apa yang akan terjadi juga belum ada.

Dia mengaku menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, jika pantangan tersebut berkaitan dengan sosok penunggu ghaib yang menjaga kampung yang ada di kaki gunung Merbabu ini.

Konon, sang penunggu ghaib ini kurang berkenan dengan adanya pagelaran wayang kulit.

“Katanya tidak boleh menyaingi watu (batu) yang berbentuk seperti kelir yang ada di sebelah selatan dukuh ini,” jelasnya.

Sutopo salah satu pemerhati budaya mengatakan masih mendalami cerita penduduk berkaitan larangan pagelaran wayang kulit ini.

“Ini sebuah kearifan lokal yang masih dipertahankan. Saya yakin hal itu ada maksud baiknya, seperti larangan menebang pohon besar yang bermaksud melindungi mata air,” pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved