Berita Klaten Terbaru
Total Hewan Kurban di Klaten 40.925 Ekor : DKPP Terjunkan 15 Dokter dan 45 Mantri untuk Memeriksanya
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten menyisir hewan kurban menjelang Idul Adha.
Penulis: Ibnu DT | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten menyisir hewan kurban menjelang Idul Adha.
Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Klaten, Triyanto menjelaskan, di antaranya dengan memantau ke lapangan.
"Pemantauan mulai dilakukan sejak hari ini hingga hari tasrik," kata dia kepada TribunSolo.com, Sabtu (9/8/2022).
"Alhamdulillah hasil pemantauan semua ternak yang diamati di lokasi (semua) aman," tambahnya.
Triyanto mengungkapkan, berdasarkan data yang pihaknya miliki khususnya Kabupaten Klaten terdapat 14.567 ekor sapi, 17.687 ekor kambing dan 8.671 ekor domba untuk kurban.
"Sudah kami monitoring," kata dia.
Triyanto mengatakan dinas membagi tim ke lima wilayah kecamatan, dengan jumlah puluhan petugas.
"Tim yang kita sebar ada 15 dokter hewan, didampingi dengan paramedik 45 orang. Yang kita sebar di (5) wilayah Puskeswan," jelas dia.
"Itu ada satu dokter hewan didampingi dua orangnada juga 1 dokter hewan di dampingi 1 orang.
Tim selanjutnya akan berkeliling ke masyarakat untuk memantau ke lokasi tempat pemotongan hewan tersebut.
Baca juga: Malam Takbiran Idul Adha di Solo, Sejumlah Jalanan Padat Merayap, Pengendara Pun Harus Bersabar
Baca juga: Rekor, Pengkok Jadi Desa Terbanyak di Sragen yang Sembelih Hewan Kurban : Ada 167 Sapi & 36 Kambing
"Tim sudah kita sebar, kalau saya melakukan pantauan di perumahan di daerah Kelurahan Gergunung," akunya.
"Lokasi lain yang dipantau teman-teman semuanya alhamdulillah aman," tambahnya.
Hingga saat ini, belum ada hewan yang terindikasi suspek penyakit kaki dan mulut atau cacing hati.
"Dari laporan temen-temen di lapangan lewat WhatsApp, belum ada temuan soal cacing hati. Termasuk untuk hewan yang diduga suspek PMK juga belum ada temuan," ungkapnya.
"Karena sapi terlihat sudah disiapkan sehingga belum ada temuan yang menunjukkan gejala atau indikasi PMK," tegasnya.
Meski begitu, pihaknya telah memberikan sejumlah langkah apabila ditemukan kejadian hewan suspek PMK sesaat sebelum penyembelihan.
"Kalau sampai ditemukan ada salah satu yang terjangkit atau terindikasi PMK itu sudah ada sop-nya. Nantinya untuk hewan yang diduga aspek PMK akan disembelih paling akhir," paparnya.
Dijelaskan Triyono jika daging hewan yang terindikasi suspek PMK masih layak untuk dikonsumsi dengan pengolahan yang tepat.
"Daging yang terindikasi suspek PMK itu masih layak untuk dikonsumsi. Karena dagingnya tidak bermasalah, karena sifatnya itu bukan zoonosis," jelasnya.
"Namun harus ada penanganan tersendiri, kalau sudah terindikasi PMK harus dipotong paling akhir, terus yang menangani juga harus langsung membersihkan diri agar tidak menularkan ke yang lain," tambahnya. (*)