Polisi Tembak Polisi
Ferdy Sambo Menangis di Depan Ketua Komnas HAM, Menyesal Libatkan Bharada E dan Rusak Masa Depannya
Ferdy Sambo merasa telah merusak masa depan Bharada E yang tergolong masih muda dan belum lama menjadi anggota polisi.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ucapannya, kata Ahmad Taufan, kemudian dijawab oleh Irjen Ferdy Sambo.
"Itu diakuinya, dan dia menangis," imbuh Ahmad Taufan Damanik.
Ketika presenter KOMPAS TV Aiman Witjaksono bertanya menegaskan terkait fakta Ferdy Sambo menangis, Komisioner Komnas HAM itu pun menyahut mengiyakan, "Menangis."
Diberitakan sebelumnya, dalam kasus pembunuhan Brigadir J, penyidik Tim Khusus Bareskrim Polri telah menetapkan empat orang tersangka.
Mereka dijerat dengan Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana.
Keempat orang itu antara lain Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E, Bripka Ricky Rizal (RR), dan Kuat Maruf (KM) selaku asisten rumah tangga Irjen Ferdy Sambo.
Irjen Ferdy Sambo diketahui merupakan pihak yang memberikan perintah kepada Bripka RR dan Bharada E untuk membunuh Brigadir J.
Belakangan terungkap, baku tembak yang sebelumnya disebut terjadi di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo hanyalah skenario untuk menutupi kematian Brigadir J yang sesungguhnya.
Mahfud MD Bongkar Drama Melankolis Ferdy Sambo
Sampai kini kasus penembakan Brigadir J masih penuh teka-teki.
Kemudian terkuak skenario pembunuhan Brigadir J ternyata dibumbui drama melankolis agar banyak orang percaya.
Bagaimana drama pembunuhan itu berjalan disampaikan oleh Menko Polhukam sekaligus Ketua Kompolnas, Mahfud MD.
Mahfud MD membongkar drama yang dibuat Irjen Pol Ferdy Sambo, untuk membuat orang percaya skenarionya.
Baca juga: Kamaruddin Duga Brigadir J Bocorkan Soal Si Cantik ke Putri Candrawathi, Jadi Alasan Penembakan
Dia mengatakan, sebelum rilis peristiwa kematian Brigadir J, ada adegan Ferdy Sambo menangis-nangis di ruang kerjanya.
Mabes Polri pada mulanya merilis Brigadir J meninggal, dengan skenario baku tembak, pada Senin (11/7/2022) sore.