Berita Sragen Terbaru

Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri : Jadi Warisan Budaya Tak Benda Pertama dari Sragen, Isinya Istimewa

Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri dari Kabupaten Sragen ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

TribunSolo.com/Septiana Ayu
Kepala Bidang Pembangunan Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan saat memperlihatkan hasil digitalisasi Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri. Kitab ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri dari Kabupaten Sragen ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Sebelumnya, manuskrip yang rampung ditulis pada tahun 1857 ini, diajukan untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tak Benda bersama total 16 usulan lainnya dari Jawa Tengah.

Kabar tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pembangunan Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan.

"Alhamdulillah manuskrip Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri berhasil mendapat rekomendasi penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia," katanya kepada TribunSolo.com, pada Jumat (30/9/2022) malam.

Penampakan sampul Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri. Kitab ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Penampakan sampul Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri. Kitab ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. (TribunSolo.com/Septiana Ayu)

Penetapan secara resmi masih menunggu Surat Keputusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang akan diinfokan kemudian.

Menurut Johny, Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri menjadi Warisan Budaya Tak Benda pertama dari Sragen.

"Ini merupakan WBTB Indonesia pertama dari Sragen," singkatnya.

Manuskrip Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri ditulis di atas kertas daluwang berukuran 23 cm x 19 cm yang tidak bergaris.

Baca juga: Waspada, Maling Helm Mahal Marak di Klaten : Sehari Tiga Helm Hilang, Harganya Capai Jutaan Rupiah

Baca juga: Menurut Ramalan Primbon Jawa, 5 Weton Ini Diprediksi Cocok dan Sukses Jadi Pedagang

Tulisan yang tertuang menggunakan campuran aksara Arab, Pegon dan Jawa.

Naskah yang diketahui berusia ratusan tahun tersebut masih dirawat dengan baik oleh Achmad Wahyu Sudrajat yang merupakan generasi kelima keluarga Haji Tabbri.

Kondisinya mulai usang, dengan sedikit rapuh dan hampir seluruh kertas mengalami rusak atau robek di pinggirnya.

Meski begitu, tulisan yang ada didalamnya masih bisa terbaca dengan baik dan hanya beberapa bagian kecil yang tidak terbaca karena lapuk.

Lanjutnya, dalam kitab tersebut berisi ajaran-ajaran kehidupan dari Haji Tabbri.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved