Berita Solo Terbaru

Gas Air Mata di Tragedi Kanjuruhan Disorot, Wawali Solo Teguh : Di Protap Nggak Ada, Itu Untuk Demo

Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa menyayangkan jatuhnya korban akibat penanganan kerusuhan menggunakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan

TribunSolo.com/Agil Tri
Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa mempertanyakan penggunaan gas air mata saat penanganan kerusuhan pasca pertandingan Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang.

Akibatnya, sebanyak lebih dari 170 orang dilaporkan tewas. 

"Kenapa ada gas air mata dalam stadion? Itu dalam protap tidak ada. Itu kalau kita menangani demo di luar semua," kata Teguh, kepada TribunSolo.com, Minggu (2/10/2022). 

Baca juga: Dari Solo Untuk Malang, Aksi Solidaritas Suporter Persis untuk Tragedi Stadion Kanjuruhan

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan Jadi Duka Sepakbola Dunia, Piala Dunia U20 di Solo Juga Bisa Terancam Batal

Peristiwa ini menjadi rentetan panjang tragedi berdarah dalam dunia sepak bola.

Dia menyayangkan banyaknya nyawa yang melayang dalam beberapa waktu terakhir di persepakbolaan Tanah Air. 

"Kejadian terus beruntun. Sleman sudah berapa yang korban. Menghilangkan nyawa seperti tidak ada harganya," terangnya.

Teguh juga heran lantaran jatuhnya korban di Stadion Kanjuruhan justru terjadi bukan suporter antar klub.

Melainkan faktor lain yakni pihak keamanan. 

"Kita musuhnya tidak ada. Ini justru antara suporter dengan pihak keamanan," jelasnya.

Baca juga: Tanggapan FIFA Terkait Tragedi Kanjuruhan Usai Laga Arema vs Persebaya : Dunia Sepak Bola Terpukul

Baca juga: Sikap Suporter Persis Solo untuk Tragedi Stadion Kanjuruhan : Menarik Diri Dulu Sejenak

Peristiwa ini menjadi sorotan dunia karena mencetak korban terbesar sepanjang sejarah persepakbolaan.

"Kita kedua terbesar setelah kejadian Peru. Sudah sekian tahun yang lalu. Juventus dengan Liverpool saja kejadiannya tidak sampai seratus," tuturnya.

Dia pun mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo yang menginstruksikan untuk menghentikan liga untuk sementara waktu.

Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk melakukan pembenahan.

"Saya lihat Bapak Presiden dengan cepat untuk sementara evaluasi. Seluruh liga dievaluasi," tegasnya.

Meskipun peristiwa semacam ini tidak terjadi di daerah lain, penghentian seluruh pertandingan tetap harus dilakukan.

"Itu bagian dari peringatan kita semua untuk lebih menghargai nyawa seseorang," terangnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved