Berita Boyolali Terbaru

Mitos Ular Raksasa Penjaga Situs Gumuk Tlawong Sawit Boyolali, Bila Ditangkap Bisa Celaka

Ada mitos yang beredar di warga kawasan Situs Candi Tlawong, Desa Tlawong, Kecamatan Sawit. Tentang ular raksasa penjaga situs tersebut.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Tri Widodo
Beberapa warga tengah menjaga Situs Gumuk Tlawong Sawit Pasca Ekskavasinya Dihentikan BPCB, Selasa (4/10/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Cerita keberadaan ular raksasa yang menjaga kawasan Situs Candi Tlawong, Desa Tlawong, Kecamatan Sawit sudah cukup tersohor.

Banyak warga yang meyakini jika situs Gumuk Tlawong itu dijaga oleh sesosok ular raksasa.

 Bambang (52) yang mendengar dari penuturan orang yang lebih tua.

 Dimana ular itu sering menampakkan diri di sekitar areal tersebut.

“Keluar dari lubang di dekat yoni yang ada di sisi timur situs,” katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (4/10/2022).

Hingga kini, tidak ada warga yang berani menangkap atau membunuh ular tersebut.

“Nggak ada yang berani menangkap atau membunuhnya, bahaya sekali. Orang itu dan keluarganya bisa mengalami celaka,” kata dia.

Baca juga: Mitos Makam Kukun di Jaten Karanganyar: Kawin Gencet hingga Suara Musik Gamelan

Warga lainnya, Jefri juga mengaku pernah mengalami peristiwa yang heboh dan menakutkan.

Dia masih ingat pernah melihat kepala banteng tanpa badan melayang di sekitar kawasan situs kuno tersebut.

Kejadian tersebut dialami saat dia membantu orang tuanya mengairi sawah tak jauh dari situs candi Tlawong atau yang biasa disebut situs serut.

Saat itu sore hari dan matahari baru saja tenggelam.

“Tiba- tiba dari arah utara muncul kepala banteng tanpa badan melayang berputar- putar lalu hilang lagi di kawasan situs. Saya ketakutan dan bergegas pulang,” papar dia.

Terkait hal itu, Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahadyan mengungkapkan, memang kawasan situs kuno sering dikaitkan dengan mitos.

Dimana situs digambarkan ada penunggu makhluk gaib.

“Adanya kearifan lokal seperti itu justru membuat situs kuno jadi aman dari jamahan tangan- tangan jahil,” pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved