Klaten Bersinar

Waspada DBD Selama Musim Hujan, Dinkes Klaten : Jaga Kebersihan Rumah dan Berantas Sarang Nyamuk

Tribunsolo.com/Erlangga Bima Sakti
Ilustrasi : Fogging. Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mewanti-wanti terkait kasus demam berdarah dengue (DBD) masih tinggi. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mewanti-wanti terkait kasus demam berdarah dengue (DBD) masih tinggi.

Untuk itu, warga masyarakat perlu waspada terlebih saat ini sudah memasuki musim penghujan dan lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 

Sampai dengan minggu ke-45 kasus DBD mencapai 486 kasus dengan 23 kematian. 

Kasus DBD dan kematian di Klaten pada 2022 juga meningkat tajam jika dibandingkan dengan 2021.

Angka kasus DBD tahun lalu itu sebanyak 143 kasus dan kematian 7 orang.

Sekertaris Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, tak menampik adanya lonjakan kasus DBD di wilayahnya. 

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, sampai dengan minggu ke-52 hanya 218 dengan kematian 10 kasus. 

Dirinya juga menyampaikan bahwa minggu pertama sampai minggu ke-22 itu memang tinggi namun angka kematiannya sedikit ini dua kasus kematian. 

Sedangkan mulai minggu ke-38 hingga ke-39 mengalami penurunan kasus, yakni ada 4 hingga 5 kasus per minggu meski belum terjadi nol kasus.

"Pada minggu ke-45 ini mengalami kenaikan menjadi 12 kasus," jelas dia saat rapat koordinasi (rakor) di Pendopo Setda Kabupaten Klaten.

Menurutnya tingginya angka kematian, disebabkan karena kelambatan dalam memahami gejala demam berdarah. 

"Karena kadang-kadang saat kondisi badan yang bersangkutan sudah tidak panas tidak disadari bahwa di saat itu terjadi penurunan kondisi," terangnya. 

Baca juga: Tujuan Festival Ketoprak Pelajar Klaten : Lestarikan Budaya, Siswa dari Belasan Sekolah Unjuk Gigi

Baca juga: DBD Renggut 8 Nyawa di Karanganyar Selama 2022, Total Capai 734 Kasus 

Dari 486 kasus dengan kematian 23 orang itu terdiri dari empat orang dewasa dan 19 anak umur 0-16 tahun. 

Dia menambahkan jika kenaikan kasus dipengaruhi oleh banyak faktor. 

Di antaranya, musim pancaroba merupakan salah satu faktor, lantaran pada saat itu nyamuk nyaman mendapatkan tempat tinggal. 

"Sehingga, saya berpikir bahwa kebersihan rumah masing-masing masih orang (pasien DBD) itu bersih, namun ada beberapa rumah kosong yang tidak tersentuh," ungkapnya. 

Untuk itu, perlu dilakukan pengecekan rumah-rumah kosong.

Tentunya bekerja sama dengan Kepala Desa, RT/RW bersama pemilik rumah untuk memastikan dirumah tersebut terdapat sarang nyamuk atau tidak. 

Dia juga menghimbau kepada masyarakat untuk tetap melakukan bersih, dengan melakukan 3M alias mengubur, menguras, dan menimbun.

"Untuk masyarakat tetap nomor satu adalah pemberantasan sarang nyamuk, itu menjadi penting karena membunuh nyamuk itu percuma tapi membuat sarangnya tidak ada dengan sendirinya yang akan terbunuh," jelas dia.

Sekertaris Daerah Kabupaten Klaten, Jajang Prihono, terkait dampak yang mengikutinya akibat cuaca ekstrim akhir-akhir ini harus dipetakan. 

Dirinya meminta kepada masyarakat, untuk menghidupkan kembali kegiatan pembersihan sarang nyamuk pasca hujan.  

"Cuaca akhir-akhir ini cukup ekstrim yang memungkinkan orang lebih rentan terhadap penyakit," terangnya. 

"Mapping kebutuhan sarana dan prasarana, apa yang kurang segera koordinasikan, yang paling penting adalah antisipasi karena cuacanya ini membuat kita harus pintar menjaga kondisi," jelasnya. (*)