Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Info Sukoharjo

Kebaikan Pemkab Sukoharjo : Buatkan Rumah Karantina Bagi Burung Hantu, Hewan yang Jaga Sawah Petani

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo menggelontorkan Rp 200 juta untuk pembangunan rumah karantina burung hantu (Tyto Alba)

Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Anang Ma'ruf
Rumah karantina swadaya burung hantu di beberapa desa sebelum dibuatkan karantina permanen di Desa Pondok, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (11/1/2023). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo menggelontorkan Rp 200 juta untuk pembangunan rumah karantina burung hantu (Tyto Alba).

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Bagas Windaryatno mengatakan, rumah karantina berada di Desa Pondok.

Diketahui burung hantu merupakan salah satu predator yang bisa memangsa tikus.

Sebelumnya Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) membuat rumah karantina swadaya di beberapa desa tetapi karena semi permanen, bangunan itu cepat rapuh.

"Rumah karantina itu juga kurang layak,” kata dia kepada TribunSolo.com, Rabu (11/1/2023).

Menurut Bagas, P4S Harmoni akhirnya mengusulkan agar dibuatkan rumah karantina permanen ke Dinas Pertanian dan Perikanan.

“Pemkab menggelontorkan anggaran sekitar Rp 200 juta untuk pembangunan rumah karantina dan fasilitas pendukung,” katanya.

Baca juga: Benarkah Jokowi Ajukan Nama Gibran untuk Pilgub DKI Jakarta ke Megawati? Gibran : Tidak Ada

Baca juga: Dulu Rusak Parah, Kini Jalan Telukan - Cuplik Sukoharjo Sudah Mulus: Lancar Dilewati 

Kasi pelayanan di Desa Pondok, Suratno selaku dia menjelelaskan, burung hantu yang dibudidayakan para petani untuk menjaga lumbung padi.

Menurut dia, Dinas Pertanian dan Perikanan terus mengedukasi para petani agar memelihara burung hantu untuk membasmi tikus.

Pemanfaatan burung hantu bisa menekan angka serangan tikus pada tanaman padi sehingga tak ada lagi lahan pertanian yang gagal panen.

"Sekarang banyak yang kemudian membudidayakan," aku dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved