Berita Solo Terbaru
Bisnis Baju Bekas Lokal di Pasar Ngudi Rejeki Gilingan : Terus Eksis, Dibanderol Mulai Rp2 Ribu
Pelanggan baju bekas lokal ini beragam, mulai dari kuli bangunan, tukang becak, sampai mahasiswa.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di tengah maraknya pelarangan baju bekas impor, terdapat bisnis baju bekas lokal yang masih bertahan demi memenuhi kebutuhan kalangan menengah ke bawah.
Salah satunya di lantai dua Pasar Ngudi Rejeki Gilingan.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, beli pakaian baru bukan pilihan.
Baju bekas lokal inipun menjadi solusi, apalagi dengan harga yang miring dibandingkan harga baju baru.
Salah satu pedagang, Yati (62) mengaku sudah 28 tahun menggeluti bisnis ini.
Sebelum menetap di pasar ini, ia sempat berjualan di jalan.
"Masih di jalan. 8 tahun," terangnya, kepada TribunSolo.com, Sabtu (1/4/2023).
Ia membeli baju dari rumah ke rumah dengan borongan.
"Orang pindahan dijual. Ngambil dari perorangan dijual sini. Orang butuh di rumah dijual sini. Aku beli borong, jual per biji," jelasnya.
Baca juga: Imbas Maraknya Penjualan Baju Impor Bekas, Usaha Konveksi di Sragen Lesu: Permintaan Turun 50 Persen
Baca juga: Nganggur Bikin Minder Dateng Bukber, Jadi Reseller Baju Koko Kekinian Bisa Dapat Penghasilan
Tidak semua baju yang ia beli dalam kondisi bagus.
"Kalau sobek barangnya bagus, sobeknya masih bisa digarap enggak. Kalau masih bisa saya beli," tuturnya.
Baju bekas ini dibanderol bahkan mulai Rp 2.000.
Di harga Rp 5.000 pelanggannya sudah mendapat kaos.
"Barang bagus sampai Rp 20.000. Kalau model lawas ya cuma Rp 5.000. Rp 2.000 ya ada," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Suasana-penjualan-baju-bekas-lokal-di-lantai-2-Pasar-Ngudi-Rejeki-Gilingan.jpg)